Showing posts with label Bentang. Show all posts
Showing posts with label Bentang. Show all posts

Friday, 26 August 2016

Sajak Anak Ayam

Persimpangan
Berulang kali aku membaca sajak-sajak rindu
tetapi patah dalam setiap renungan malam
terpampang wajahmu dalam diam yang ku lakukan
terlukis wajahmu dalam hitamnya nan kelam

Berulangkali aku menulis sajak-sajak kangen
luluh lantak dalam namamu di ketidaksadaranku
ruh-ruh sajak Rendra membingkai indah di pelupuk
Pertamakalinya aku rindu seberat ini

tidak tahu aku akan artinya sakit
gelap aku dari bayangan anggun lain
tatkala gerimis rindu darimu sedang bertamu
adalah aku si anak ayam yang sedang berteduh

Sunday, 7 August 2016

Rindu Itu Karya Tuhan

http://artimimpi-az.com/
Dari manakah rindu ini datang?
padahal raut wajahmu tak ku kenang
ohhh......
daku lupa, laut dan pantai adalah karya Tuhan
mengirim angin penanda bahwa
kau tak kan lekang, semakin lama
semakin memutih bak pasir diantaranya.



Wednesday, 3 August 2016

Sajak Untuk Wanita

http://www.palingyess.com/
Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Ditulis ulang
oleh: Hyd

Monday, 1 August 2016

Surat Untuk Rembulan

mhdfaisal.files.wordpress.com

Suatu sore, di satu desa
aku, berlari mendekati lampu jalanan yang terang di tengah senja. Bergegas mencari penerangan saat mendung telah tiba. Rembulan malam lah yang ku temukan di antara gemerlap sinar pelita jalanan. Terang menyinari, indah mewarnai. 
Namun waktu tak berpihak padaku. Begitu jahat sang awan merenggut kehadirannya. Ia hilang, jauh dan pergi, selanjutnya lenyap dan tak kembali. 
Oh,...... rupanya musim telah berganti.
Musim penghujan tiba, 
Siang dan tak peduli malam, ia (hujan) terus saja membasahi bumi. Saat itu aku sadar bahwa aku bagaikan pemburu liar yang tak mengerti batasan, yang tak mengerti aturan. Bagaimana tidak, hanya akulah satu-satunya penikmat malam yang mencari rembulan di dalam hujan dan petir. 
Ah.... lupakan saja rembulan, barangkali ada bintang-bintang, gumamku sembari senyum.
Untukmu rembulan; Mati besok setelah mengenalmu adalah kebanggaan bagiku, dibandingkan aku hidup abadi di dunia ini namun tanpa mengenalmu. Ah lebaynya aku....
Ku minta, henyahlah kau rembulan hingga musim berakhir. Sekiranya musim telah berganti, datanglah! aku ingin menyaksikan kau bersinar seperti semula. Menerangi setiap pojok belahan bumi. 
Yah.. datanglah lagi ke peraduanmu. Bertenggerlah di ranting, agar bisa ku saksikan lewat jendela kamarku.
Sebab, bila saatnya aku jatuh cinta sama satu bintang, ku ingin melihat kau (rembulan) kembali purnama. 

Thailand, Agustus 2016 
Ditulis oleh:
Hyd



Tuesday, 26 July 2016

Mencintai Dengan Bijak

Sebelumnya, biarkan surat ini melayang. Menjauh lalu menghilang. Ini hanya perihal aku yang kan dibunuh waktu. Usah kau kenang, sayang. 

Untuk mu, yang bukan dia
Semenjak sehari seusai perkenalan kita, aku termenung panjang meratapi hari-hari yang akan datang. Mengkhawatirkan sesuatu, seolah ragu akan pertolongan Tuhanku. Tak perduli siang, apalah artinya malam.

Ku lihat satu tangan menggenggammu dengan erat. Kau tau? aku bagaikan dalam terowongan. Bingung, gelap, gelugutan, kedinginan dan ketakutan. Aku terus menanti datangnya sinar di ujung sana. Sinar indah yang datang dari rembulan tertidur lelap di bola matamu. Sinar indah dari gemerlapan kejora dalam tawa mu. meskipun tanganmu terikat padanya. Ahh... bodohnya aku

Detik yang berganti begitu berat, sayang (maaf ku panggil sayang). Jadi, bisa dibayangkan bukan? bagaimana kala menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Kagumku tak pernah pudar apalagi menghilang, meskipun ragamu semakin jauh dipandang. Berlalunya waktu semakin jauh dan lenyap.

Sepeninggalanmu, aku terhuyung terbawa setiap angin. Angin masa silam yang menguburku dalam-dalam. Serupa puisi Kangen W.S Rendra yang menggerogoti jiwa. Rindu ini semakin dalam, menusuk hingga tulang-belulang. Namun kepada siapa aku harus mengadu? Membayangkanmu tersenyum dari kejauhan adalah kebahagiaan yang tak ada tara. Meskipun satu persatu bintang memintaku gegabah, tapi, satu rembulan senantiasa memintaku mencintai dengan bijaksana. Mencintai tanpa menyakiti hati yang lain. 

Pada akhirnya, rinduku sampai pada penghakiman. Harus ku serahkan semuanya pada-Nya. Do'a memang tak terlihat di pojok bumi, namun melayang ke semesta. Cepat dan tepat jatuh di tangan Tuhan. 

Salam,
aku

Perindu. 

Pigura