Showing posts with label Laut. Show all posts
Showing posts with label Laut. Show all posts

Thursday, 23 November 2017

SAJAK ANAK PALESTINA


Nasib kami melambung bersama debu-debu
tertimpa hujan selanjutnya jatuh ke jalan
tercium bau-bau sajak kematian dalam badan kami.

Nasib kami hanyut dalam sungai-sungai merah
pecah berkeping terhimpit batu
terpancar sajak kesengsaraan dalam raut muka kami

Tang melintang jatuh terombang
Tang melintang tubuh terlentang
Anak-anak kami berlari disela-sela gedung
Ujung senapan serupa malaikat maut
mengancam sejak pagi hingga petang
Kabut gelap tak mengenal pagi ataupun malam

Nasib kami melambung bersama debu-debu
sisa keangkuhan manusia laknatullah
Nasib kami hanyut bersama sungai-sungai
sisa darah mujahid fi sabilillah

Anak-anak kami berlari mengejar kehidupan
bukan pamrih di hadapan mentari

Yogyakarta, 2010
Haiyudi

Saturday, 27 August 2016

Sajak; Pulang dan Hilang

Thailand 2016
Antara aku dan pulang
ataukah aku yang hilang?

Jejak-jejak purba kita berlalu-lalang
dilalui orang pergi dan pulang
persimpangan itu
persimpangan penuh sejuta
sejarah tersajak dalam tinta
tertulisnya sejuta kisah kau aku
persimpangan itu,
persimpangan yang membuat aku menoleh
memandang lalu berlutut
menumpu dan memupuk benih rindu
atas terpisahnya kita

"lupa aku setapak jalan tempuh masa silam"

adalah aku terduduk dalam hitam
membiarkan bintang menghitung
butir rindu dalam setiap hela nafas

adalah aku yang tertiup angin
masa silam yang kejam
yang hanya menyampaikan rindu
tanpa meramu jarak dan waktu untuk bertemu

"ataukah aku hilang dalam pertualang?"

Th, 28-08-16
Hyd,



Sunday, 7 August 2016

Rindu Itu Karya Tuhan

http://artimimpi-az.com/
Dari manakah rindu ini datang?
padahal raut wajahmu tak ku kenang
ohhh......
daku lupa, laut dan pantai adalah karya Tuhan
mengirim angin penanda bahwa
kau tak kan lekang, semakin lama
semakin memutih bak pasir diantaranya.



Wednesday, 3 August 2016

Sajak Untuk Wanita

http://www.palingyess.com/
Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Ditulis ulang
oleh: Hyd

Saturday, 30 July 2016

Bukan Pulang: Terkisahnya Ayah, Ibu dan Senja

Dok. Pribadi (Thailand, 2016)
Hanyut aku dalam senyuman senja sore ini
berpangku tangan membiarkan serta meninggalkan
roda-roda ini kian membawaku pergi menuju rumah
meninggalkan mentari, serupa sejuta wajah bidadari
ku kira ini perjalanan pulang,
menuju rumah yang ada serulingnya
serta gendang berirama satu dua dan tiga
sampai rupanya senja kian menghilang
dan aku hanya tiba di setapak persimpangan
inikah pulang?
lalu kuratapi lagi kepergiannya yang tak membekas
seiring bias langit biru yang sirna dalam hitam
aku sepi semakin menjadi-jadi
mati dalam sejuta kata tak senada, aku sendiri
inikah setengah mati?
Sekali lagi,
ku kira ini perjalanan pulang,
menuju rumah bertiang kayu nyire
kudatangi, pun daku tak jua sampai
diatas sana, di langit hitam
rembulan berkedip dalam bingkai jendela
serempak gerimis menetesi kaca (ini)
dia bisikkan padaku

"Pulang bukan meninggalkan (senja), pun
Pulang adalah menuju rumah yang ada
kecut keringat ayah
serta angin nasihat ibu"

bila tidak, selamaanya perjalananmu bernama pergi
sekali lagi, ini hanya perjalanan biasa
--bukan pulang--

Th, 30 Juli 2016
Bus Satun-Hatyai,

#hyd

Friday, 29 July 2016

Hapus Tanda Tanya (?) Sajak Ini

Doc.Pribadi (Thailand, 2015)
Bahkan ketika angin menderu saja aku tidak terbangun, 
padahal aku tidur di ayunan, ditepi pantai, dekat dengan laut. 
nyaman sekali
sesaat kemudian aku mengaduh
rupanya bukan angin yang membangunkan ku, 
adalah sentuhan pasir yang kecil, 
yang ku datangi tanpa aku sadari. Ya aku terjatuh lalu terbangun. 
Ah.... angin ataukah pasir yang membuatku bangun? 
Aku terduduk, gemuruh ombak petang hari membuatku lena 
lentera alam melengkung indah membentuk senja 
sampan nelayan satu dan dua menjauh, kupangku kedua tangan.
Ah.... nelayan ataukah senja yang membuatku tertegun?
lalu malam mulai berbintang, cahayanya serupa lampu jalanan kota, 
bulan berdandan mempercantik dirinya sendiri 
menghadirkan senyum, sesekali meliuk-liuk dibawah awan hitam
Ah.... bintang ataukau rembulan yang membuatku tersenyum?
aku masih di tempat yang sama, tepi pantai itu
lonceng memintaku berjalan
menuju setapak jalan di persimpangan
langkah kecil ku ayunkan
sesekali ku tengok lautan hitam dan gelap itu
aku tersentak
kupejamkan mata, 
lalu ku buka
semakin tersentak
semua kata-kata ku disitu, hidup akur dan merdeka
bait-bait gurindamku menyala serupa cahaya
bak setiap kata adalah do'a, begitu kata pepatah
sedangkan namamu terselip dalam sajak-sajak ku, hidup, tumbuh dan mengakar
hapus semua "tanda tanya" sajakku (?)

terkisahnya sajak antara aku, kau, pantai dan malam.

Th, 29/30 Juli 2016
Hyd


Pigura