Showing posts with label Malam. Show all posts
Showing posts with label Malam. Show all posts

Thursday, 23 November 2017

MENUNGGU? HARUSKAH?

The Art of Waiting
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam lomba kepenulisan cerpen oleh penerbit Wahyu Qolbu

Kasih, tidak ada yang mengharuskan kau menunggu, bila berjodoh maka aku yang
akan mendatangi. Bila tidak, sebait do’a untukmu rasanya lebih mulia
Oleh: Haiyudi
======================
            Langit semakin menghitam, melenyapkan senja yang selalu dipuja oleh para penikmatnya. Rembulan semakin meninggi, terkadang bersembunyi di sebalik bongkahan awan. Aku, Seman Yusuf, hanya termenung dalam segelas kopi. Merapuh dalam sejuta bayang masa depan. Memikirkan perihal yang masih “entahlah”. Malam ini, aku duduk di bawah langit dan di atas bumi negeri rantau. Angin malam membawaku kepada kenangan dan menerawang kepada masa lalu dua tahun silam.
***
            “Sampai kapan kamu disana, Seman?” Mila bertanya padaku sedikit bergetar
            “Mungkin hanya dua tahun” Jawabku sambil menyuguhkan senyum termanisku. Walaupun kata mereka senyum ku sedikit pahit, dan aku setuju hal itu.
            Mila, perempuan ayu berjilbab putih ini menurut dunia sekitar adalah kekasihku, entah siapa yang menobatkan. Namun sedikitpun aku tidak merasa bahwa kami adalah sepasang kekasih. Bukan karena aku membenci atau tidak menyukainya. Lebih kepada bagaimana sepasang kekasih menurut Islam yang ku tahu dan ku pahami.
Malam itu, adalah aku, Mila dan Andi sedang duduk rapi diatas tikar purun. Kami berbicara sedikit lebih terbuka tentang banyak hal, dimulai membahas puisi Robert Burns, membedah buku Potret Konstitusi Pasca Amandemen UUD 1945 karya A.M. Fatwa, membedah film Filosofi Kopi yang sedang booming pada saat itu, bahkan sampai membahas lagu terbaru Cita Citata yang entah apa itu judulnya. Namun yang terpenting pula saat itu kami sedang berbicara perihal keberangkatanku. Sebagai delegasi yang akan segera diberangkatkan ke Luar Negeri, pastilah itu akan mengundang banyak percakapan. Ada rasa semacam menjadi terdakwa, menjawab banyak pertanyaan ini dan itu. Namun malam itu aku merasa indah sekali, sebab percakapan kami tak luput dari secangkir kopi, nasi kucing, dan berapa jenis sate ala angkringan. Serta yang paling istimewa adalah bahwa malam itu kami ditemani langit berbintang kota Jogja.
            “Minggu depan sudah fiks, Boi?” Tanya Andi kepadaku.
            “Tidak ada yang bisa menghalangi untuk bercita-cita” Jawabku sambil mengedipkan mata. Sementara Andi hanya menunjukkan wajah persetujuan sambil menganggukkan kepala. Kami bertiga adalah bujang dayang Melayu yang sama-sama melanjutkan studi kala itu. Sama-sama menyukai seni dan yang pasti saat itu kami sama-sama masih sendiri. Tepat di depan ku Mila masih terdiam dan menunduk. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
            “Kamu tidak kasihan membiarkannya menunggu, Man”
            Aku hanya tersenyum mendengar kalimat tanya yang dolontarkan Andi kepadaku. Namun tidak dengan Mila, ia tetap saja membisu, menunduk dengan nafas tidak teratur. Tidak biasanya Mila diam sedemikian lama. Menunduk sedemikian jauh dan dalam.
            “Apa yang sudah kau persiapkan, Man?”
            “Masih terlalu dini untuk berkemas-kemas” Jawabku sambil tersenyum
            “Bukan itu, maksudku, mempersiapkan mental misalnya” Andi meminta tambahan kopi hitam kepada bapak Angkringan
            “InshaAllah sudah siap, sudah mendapat pembekalan bahasa dari kampus juga kok”
            “Begitu?”
            “Negeri yang kan ku datangi tidak teramat jauh dari Indonesia, masih tetangga”
            “Untuk masalah hati?” Tanya Andi sambil tersenyum dan melirih ke Mila “Jangan terlalu lama, nanti ada yang rindu” Sambungnya semakin tidak tahu diri. Ku perhatikan Mila sedikit mengangkat muka dan tersenyum menatapku. Aku bingung.
            “Ada apa Mila?” Tanyaku dengan nada pelan.
“Tidak apa-apa. Jaga diri baik-baik bila kelak sudah disana”
“Jangan khwatir, aku sudah besar”
“Bahkan sudah tua” Sambung Andi tersenyum, Mila tertawa kecil dan pelan
“Seperti kau tidak tua saja, bukankah umurmu sudah mencapai 25”
“Kan belum 26” Andi adalah yang tertua dari kami karena tidak naik kelas 3 kali semasa di bangku Sekolah Dasar. Namun demikian bukanlah karena bodoh, melainkan nakal.Sehingga dikeluarkan di beberapa sekolah di Batam.
“Lalu?” Kami bertiga tertawa, dan itu pertama kuliat Mila tertawa bebas malam itu. Banyak lagi percakapan kami yang mengundang tawa
Jauh dari dalam lubuk hati, akupun sebetulnya merasa canggung hendak bertutur dengan Mila malam itu. Tidak serupa dengan malam-malam sebelumnya yang selalu timbul diskusi hangat dari kami, entah mengapa malam ini tidak demikian. Malu rasanya pada rembulan. Rembulan itu terus bertengger di ranting pohon mangga Pak Supardjono si pemilik angkringan. Ia semakin meninggi, meninggalkan kami bertiga dalam percakapan yang semakin dingin. Mila berpamit pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Andi juga pulang ke kontrakannya, pun jua aku, pulang dengan sepeda tua yang ku beri nama Paino menuju kosan.
Di sisi lain, ku perhatikan Pak Supardjono menggulung tikar purun tempat kami duduk malam itu. Itu tandanya malam sudah menunjukkan pukul 11.00. Sebab aku kenal betul siapa pak Suparjono. Bila saja  masih pukul 10.59, dia tidak akan menggulung tikarnya. Ia terkenal sebagai bapak On Time untuk masalah jualan, terlebih menagih hutang kepada mahasiswa langganan.
Malam semakin gelap, sejuta tanda tanya sedang menggantung di kepalaku. Tangan ku letakkan diatas kening. Sayup-sayup ku dengar sinden Jawa mengalun. Malam membawaku ke alamnya. Aku terlelap dalam selimut gelap, di musim hujan kala itu.
***
            “Man, bisa temui aku di Perpustakaan Daerah nanti siang jam 9?” Sebuah pesan singkat dari Mila. Pesan itu datang begitu pagi, serasa embun saja masih pulas di dedaunan hijau. “Oke, Mila. J” Balasku singkat.
            Pukul 8.58 aku tiba di Perpustakaan Daerah. Sudah ku perhitungkan, aku akan masuk ke pintu PERPUSDA tepat pukul 9.00. Jiwa pak Supardjono rupanya sudah mendarah daging dalam tubuhku. Mungkin berkat kopi pahitnya yang kuminum (hampir) setiap malam
“Kamu dimana?”
            “Dalam, blok A, bagian sastra Jerman bangku nomor 3 deretan ke empat” Kurang dari satu menit pesan singkatku sudah terbalas. Aku menuju kedalam, dan ku saksikan Mila menggunakan gamis merah jambu, jilbab panjang berwarna putih. Aku sedikit ragu, sebab hari ini ia lebih mirip anak rohis dibandingkan anak sastra. Namun demikian, aku senang.
            “Bisa berbicara sebentar?”
            “Aku sudah disini, Mila. Tentu saja bisa” Jawabku sambil tersenyum
            “Aku bawakan buku The Count of Monte Cristo untuk mu, yang ini untuk ku. Kita berbicara di taman saja ya” Mila menunjukkan buku kumpulan puisi pilihan padaku sambil senyum. Aku tau betul Mila adalah penggemar puisi. Sama sepertiku. Bahkan kami berdua adalah penggemar berat Sapardi Djoko Damono.
            Mila memintaku berjalan didepan, sedangkan aku meminta Mila duluan. Habis kata-kataku untuk mendeskripsikan betapa susahnya aku waktu itu. Hingga pada akhirnya, istilah “lady’s first” kalah dengan An-Nisa 34. Aku melangkah didepan selanjutnya memilih bangku yang agak berjarak namun tetap berdua, selanjutnya memesan minuman, selanjutnya aku pula yang harus memulai percakapan. Saat itu aku merasa sedang diuji oleh Mila.
            “Ada apa, Mila?”
            “Man, maaf kalau semalam suasananya tidak enak” Mila memasang wajah bersalah
            “Hanya itu? Kau harus meminta maaf sama Pak Supardjono juga”
            “Loh mengapa begitu?” Mila kebingungan mendengar ucapanku
            “Beliau terlihat canggung karena wajahmu semalam”
            “Seman, aku sedang serius”
            “Aku dua rius”
            “Semaaan..........” Mila memanggil namaku dengan nada panjang namun lembut dan merdu. “Milaaaaaaaa” Ku balas dengan sedikit sumbang.
            Mila tertawa namun tidak terlalu keras. Sementara aku, masih memasang wajah letih setengah berkeringat dingin, serta tidak sabar menunggu kopi susu pesananku. Sesekali aku mendapati wajah Mila menatapku untuk selanjutnya tersenyum kembali
            “Ada apa, Mila?”
            “Aku senang, Man” jawab Mila spontan “Aku senang karena masih bisa bercanda sama kamu”
            “Iya, harusnya ada Andi dan yang lain disini”
            “Tidak, Man. Sengaja aku hanya meminta kamu sendiri kesini” Mila menampakkan wajah serius. “Mungkin setelah ini, entah kapan bisa begini” Pelan namun pasti, dugaanku semakin jelas bahwa Mila memang sengaja meminta aku datang supaya bisa berbicara dan bercanda berdua dengannya.
            “Kamu terlihat berbeda hari ini, Mil” Ucapku sekedar memecah kebuntuan, atau mungkin membelokkan percakapan yang sudah bisa ku tau arahnya
            “Iya, lagi kepengen saja” balas Mila sambil tersenyum “tidak pantas ya?”
            “Loh...... justeru sangat pantas”
            “Masak?” Mila tersenyum malu-malu.
            Aku baru menyadari bahwa perkataanku sangat pantas itu adalah kejujuran atau hanya spontanitas, atau pula kejujuran yang spontanitas? Entahlah, yang ku saksikan Mila hanya bisa tersipu malu oleh kata-kata itu.
            “Man, jika kelak kamu sudah disana, apa masih ingat denganku?” Tanya Mila padaku dengan nada gemetar. Aku dapat mendengar dengan jelas setiap tarik dan hembus nafasnya. Mila seperti sedang menahan sesuatu di dada nya. Ia seakan menahan debur haru dan khawatir akan kepergianku yang masih rencana kala itu
            “Apakah mudah untuk melupakan teman?” Jawabku “Tidak mudak, Mila”
            “Aku takut Man” Imbuhnya
            “Sebab?”
            “Aku takut rasa kehilangan akan tumbuh dan besar seiring berjalannya waktu kelak”
            “Aku semakin tidak mengerti, Mila” Aku semakin kebingungan, meskipun sebetulnya aku sudah sangat mengerti jalan pembicaraan aku dan Mila saat itu.
            “Mungkin kedekatan kita memang tidak lebih dari sekedar sahabat, namun waktulah yang mengajarkan aku untuk memelihara rasa dalam sudut yang berbeda, Man” Mila tertunduk mengucapkan itu dengan getaran semakin kuat, bahkan sedikit tersedu. Angin di taman itu seakan membelaiku untuk menjadi lebih peka, serta mengajarkan Mila untuk belajar menahan diri. Cukup canggung suasananya. Cukup lama aku dan Mila terdiam, hanya menikmati satu dan dua lagu anak muda masa itu. Aku tidak bisa berkata, sementara Mila semakin dalam menunduk, semakin pula ia terdiam. Bila saja salah dalam menyikapi masalah itu, aku yakin akan kehilangan sahabat seperti Mila di detik yang sama.
            “Aku akan pergi, Mila. Mengapa seperti ini?” Aku memecahkan suasana hening di taman itu. Meskipun ramai, namun orang lain hanya ku anggap semacam hiasan saja. Mila hanya diam. Jangankan berucap kata, ia bahkan tidak mampu mengangkat wajah. “Mila, kita kenal sudah lama, Mil” namun lagi dan lagi, Mila masih saja terdiam. Aku seperti hanya melihat patung Mila di hadapanku.
            “Man, SAMPAI KAPAN AKU MENUNGGU?” Pertanyaan Mila sontak membuatku begitu terkejut. Sama sekali tidak menyangka bahwa Mila akan berucap sedemikian rupa. Maka saat itu justeru akulah yang terdiam.
            “Milaaaa” Panggilku, Mila hanya menatapku dengan wajah sayu
            “Tidak ada yang mengharuskan kamu untuk menunggu, jika kelak kita berjodoh, aku akan mendatangi. Bukan kamu, melainkan wali mu” Ucapku dengan nada bergetar “Kita hanya hanya butuh saling memperbaiki  kualitas diri”
            Mila tersenyum mendengar semua penjelasanku. Senyum Mila lebar sekali, selebar mentari siang itu. Setelah mendung, saat itu mentari kembali bersinar. Selanjutnya percakapan kami begitu panjang dan lama. Lalu pukul 12.03 aku kembali dengan sepeda tuaku. Mila pun demikian, Motor Matic terbaru pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 22, mengikuti di belakangku. Sampai pada persimpangan jalan kami harus berpisah, lambaian tangan Mila masih terkenang hingga sore, maghrib, isya, bahkan sampai malam.
***

            Malam ini, kopiku sudah semakin dingin. Tanpa kusadari malam semakin larut, rembulan mengintipku tersenyum, namun bukan dari pohon mangga Pak Supardjono, melainkan dari sela-sela candi Budha. Aku mendapati kabar penantian Mila sudah berakhir. Mila dikhitbah oleh teman sekampusnya yang juga teman ku sendiri. Rembulan tersenyum menatapku, menyambut baik do’a yang kupanjatkan untuk Mila dan kekasihnya yang sesungguhnya.

Thursday, 8 September 2016

Sajak-Sajak Semesta

dok.pribadi
Adalah sulit bagiku memahami
setiap sajak-sajak semesta
dititipkan oleh-Nya diksi rumit dalam bola mata
ada sejuta lirik dan nada dalam lidahnya

Lalu pena ku hanya bak ranting patah
pena yang setengah hampir tak bertinta
berulang kali ku tulis,
aksaraku berantakkan menumpahkan
darah ketidakpahamanku atas mu

duhai engkau
sajak-sajak semesta
duduk lah yang manis
bersandinglah dalam kanvas-kanvas
usang pun jua kusam ini
selebihnya kan ku pahami kau
dalam sebait do'a

duhai....
wanita jelmaan sajak-sajak semesta

Th.08-09-16
Haiyudi

Wednesday, 7 September 2016

Hujan

hujan dan pergi
Malam ini hujan
aku tertawa geli di hadapan jendela
menghadap ke lapangan
"hujaaan" 
"hujaaan"
gumam ku

tidak ada yang lebih pedih dari hujan
dirahasiakan olehnya air mata insan 
tersebab perihnya perihal cinta.

tidak ada yang lebih mulia dari padang
diserapkannya air mata mulia hamba
tersebab perihnya perihal cinta.

Cinta? Katanya sih demikian.

Thailand, 7 September 2016
Hyd


Tuesday, 30 August 2016

Aku dan Strawberry



Suatu hari aku bertemu dengan penjual strawberry yang berjejeran di tepi jalanan. Aku terkagum melihat merahnya yang merona. Sana-sini aku memalingkan wajah agar tidak tergoda. Apalah daya, aku merupakan seorang yang terlalu menyukai buah-buahan.

Aku berjalan menuju penjual strawberry yang bertama. Berpura-pura menanyakan harga strawberry seakan aku yakin hendak membelinya. Dalam benakku yang terbayang hanyalah manis. Mengapa? Karena wajahnya merah, kulitnya menggoda serta bentuknya menarik hati. Ternyata ibarat pepatah, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja. Apa yang ku saksikan di mata sungguh berbeda di lidah. Strawberry tidak begitu manis, Justeru cenderung asam. Bahkan sangat asam sejak gigitan pertama.

Selanjutnya aku pergi menuju penjual yang kedua di sebelahnya. Aku mendapati buah strawberry yang sama. Bentuk yang menggoda, warna yang tak ubah serta tekstur yang serupa. Aku kembali meminta izin untuk mencicipi. Dengan senang hati si penjual kedua memberiku strawberry yang paling manis "katanya". Aku mencicipi namun semua tetap sama. Tidak ada bedanya dengan penjual yang pertama. Rasanya tidak semanis yang ku bayangkan. Terus aku berpikir untuk mencoba mencicipi strawberry i pedagang selanjutnya. Sampai sekitar 7 kis strawberry ku datangi, aku tidak menemukan strawberry yang ku anggap manis sesuai prediksiku.

Tibalah aku di kios strawberry yang ke delapan, atau yang terakhir, Aku mencoba mencicipi dengan penuh harapan menemukan yang manis sesuai keinginan. Tiba-tiba penjual berbisik padaku "Anak muda, kau tak akan perah mendapatkan yang sempurna. Yang sesuai dengan yang kau inginkan. Seseorang yang merasakan manis bukan mereka yang tidak bisa merasakan asam. Tetapi justeru mereka yang selalu bersahabat dengan rasa asam dan pahit"

Hidup itu bukan tentang mencari yang manis, namun bagaimana bersahabat dengan yang asam. Maka, bila kau menemukan yang manis, hidupmu lebih bermakna dan luar biasa. Lalu bila kau menemukan yang masam, kau tidak akan apa-apa.


#hyd

Sunday, 7 August 2016

Rindu Itu Karya Tuhan

http://artimimpi-az.com/
Dari manakah rindu ini datang?
padahal raut wajahmu tak ku kenang
ohhh......
daku lupa, laut dan pantai adalah karya Tuhan
mengirim angin penanda bahwa
kau tak kan lekang, semakin lama
semakin memutih bak pasir diantaranya.



Wednesday, 3 August 2016

SABDA ALAM UNTUK INDONESIA

http://www.sbs.com.au/
senyumlah walau itu palsu 
bangkitlah walau tak selalu tegak 
bersenandunglah walau tak bernada 
tertawa, walau sebenarnya kita menangis 
Indonesiaku..... 
megah namun telah musnah 
yang tersisa hanya debu-debu kedustaan 
Indonesiaku... 
indah tapi kini telah sirna 
yang tampak hanya puing-puing kesedihan 
ketika nyanyian alam terdengar 
dengarkanlah!
ketika bumi mulai bergetar 
kasakanlah!
ketika butiran nyawa tak lagi berharga 
lihatlah!
pulau yang asri kini penuh noda 
penguasa yang jujur tak lagi ada 
nyanyian rakyat seakan percuma 
maka ketahuilah 
sabda alam 
itulah dia

Ditulis ulang:
Thailand, 2016
Hyd

Sajak Untuk Wanita

http://www.palingyess.com/
Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Ditulis ulang
oleh: Hyd

(Tak) Serupa Gugur Bunga

https://www.google.co.th
rindu ini tak serupa gugur bunga
yang jatuh seribu dalam satu masa
kadang di puja pujangga
kadang pula dilupakan pena-nya
hanya musim yang setia menantinya
Juwita....
rinduku jatuh berlahan satu persatu 
lalu ku titip ke tangan Tuhan
namun,
musimnya masih sama, kan :-) ?

Ruang Atas,
th, 2016

Hyd

Monday, 1 August 2016

Surat Untuk Rembulan

mhdfaisal.files.wordpress.com

Suatu sore, di satu desa
aku, berlari mendekati lampu jalanan yang terang di tengah senja. Bergegas mencari penerangan saat mendung telah tiba. Rembulan malam lah yang ku temukan di antara gemerlap sinar pelita jalanan. Terang menyinari, indah mewarnai. 
Namun waktu tak berpihak padaku. Begitu jahat sang awan merenggut kehadirannya. Ia hilang, jauh dan pergi, selanjutnya lenyap dan tak kembali. 
Oh,...... rupanya musim telah berganti.
Musim penghujan tiba, 
Siang dan tak peduli malam, ia (hujan) terus saja membasahi bumi. Saat itu aku sadar bahwa aku bagaikan pemburu liar yang tak mengerti batasan, yang tak mengerti aturan. Bagaimana tidak, hanya akulah satu-satunya penikmat malam yang mencari rembulan di dalam hujan dan petir. 
Ah.... lupakan saja rembulan, barangkali ada bintang-bintang, gumamku sembari senyum.
Untukmu rembulan; Mati besok setelah mengenalmu adalah kebanggaan bagiku, dibandingkan aku hidup abadi di dunia ini namun tanpa mengenalmu. Ah lebaynya aku....
Ku minta, henyahlah kau rembulan hingga musim berakhir. Sekiranya musim telah berganti, datanglah! aku ingin menyaksikan kau bersinar seperti semula. Menerangi setiap pojok belahan bumi. 
Yah.. datanglah lagi ke peraduanmu. Bertenggerlah di ranting, agar bisa ku saksikan lewat jendela kamarku.
Sebab, bila saatnya aku jatuh cinta sama satu bintang, ku ingin melihat kau (rembulan) kembali purnama. 

Thailand, Agustus 2016 
Ditulis oleh:
Hyd



Sunday, 31 July 2016

Ranjang Bambu

Ranjang Bambu

Malam ini aku tidak bisa menulis
rembulan tak ada
bintang hangus
malam pekat
sunyi menggeliat
lantas?
dimana ku temukan sajak sajakku?

sampai pada akhirnya,
biru pena ini tak lagi berguna
enyah, sirna, hilang dan lenyap
ku buang jauh serupa angin masa silam
lantas?
kepada siapa aku mengadu (h)?

malam ini,
adalah dinding yang paling mulia
disimpannya cerita lebam wajahku karena mu.
adalah pelita yang paling tercinta
diserapkannya cahaya mata ku nan berkaca
adalah ranjang bambu yang ku sayang
dirahasiakannya ratapan rindu "korang"

Thailand, The end of July, 2016
@Ranjang Bambu


#hyd

Saturday, 30 July 2016

Bukan Pulang: Terkisahnya Ayah, Ibu dan Senja

Dok. Pribadi (Thailand, 2016)
Hanyut aku dalam senyuman senja sore ini
berpangku tangan membiarkan serta meninggalkan
roda-roda ini kian membawaku pergi menuju rumah
meninggalkan mentari, serupa sejuta wajah bidadari
ku kira ini perjalanan pulang,
menuju rumah yang ada serulingnya
serta gendang berirama satu dua dan tiga
sampai rupanya senja kian menghilang
dan aku hanya tiba di setapak persimpangan
inikah pulang?
lalu kuratapi lagi kepergiannya yang tak membekas
seiring bias langit biru yang sirna dalam hitam
aku sepi semakin menjadi-jadi
mati dalam sejuta kata tak senada, aku sendiri
inikah setengah mati?
Sekali lagi,
ku kira ini perjalanan pulang,
menuju rumah bertiang kayu nyire
kudatangi, pun daku tak jua sampai
diatas sana, di langit hitam
rembulan berkedip dalam bingkai jendela
serempak gerimis menetesi kaca (ini)
dia bisikkan padaku

"Pulang bukan meninggalkan (senja), pun
Pulang adalah menuju rumah yang ada
kecut keringat ayah
serta angin nasihat ibu"

bila tidak, selamaanya perjalananmu bernama pergi
sekali lagi, ini hanya perjalanan biasa
--bukan pulang--

Th, 30 Juli 2016
Bus Satun-Hatyai,

#hyd

Friday, 29 July 2016

Hapus Tanda Tanya (?) Sajak Ini

Doc.Pribadi (Thailand, 2015)
Bahkan ketika angin menderu saja aku tidak terbangun, 
padahal aku tidur di ayunan, ditepi pantai, dekat dengan laut. 
nyaman sekali
sesaat kemudian aku mengaduh
rupanya bukan angin yang membangunkan ku, 
adalah sentuhan pasir yang kecil, 
yang ku datangi tanpa aku sadari. Ya aku terjatuh lalu terbangun. 
Ah.... angin ataukah pasir yang membuatku bangun? 
Aku terduduk, gemuruh ombak petang hari membuatku lena 
lentera alam melengkung indah membentuk senja 
sampan nelayan satu dan dua menjauh, kupangku kedua tangan.
Ah.... nelayan ataukah senja yang membuatku tertegun?
lalu malam mulai berbintang, cahayanya serupa lampu jalanan kota, 
bulan berdandan mempercantik dirinya sendiri 
menghadirkan senyum, sesekali meliuk-liuk dibawah awan hitam
Ah.... bintang ataukau rembulan yang membuatku tersenyum?
aku masih di tempat yang sama, tepi pantai itu
lonceng memintaku berjalan
menuju setapak jalan di persimpangan
langkah kecil ku ayunkan
sesekali ku tengok lautan hitam dan gelap itu
aku tersentak
kupejamkan mata, 
lalu ku buka
semakin tersentak
semua kata-kata ku disitu, hidup akur dan merdeka
bait-bait gurindamku menyala serupa cahaya
bak setiap kata adalah do'a, begitu kata pepatah
sedangkan namamu terselip dalam sajak-sajak ku, hidup, tumbuh dan mengakar
hapus semua "tanda tanya" sajakku (?)

terkisahnya sajak antara aku, kau, pantai dan malam.

Th, 29/30 Juli 2016
Hyd


Pigura