Thailand 2016
Antara aku dan pulang
ataukah aku yang hilang?
Jejak-jejak purba kita berlalu-lalang
dilalui orang pergi dan pulang
persimpangan itu
persimpangan penuh sejuta
sejarah tersajak dalam tinta
tertulisnya sejuta kisah kau aku
persimpangan itu,
persimpangan yang membuat aku menoleh
memandang lalu berlutut
menumpu dan memupuk benih rindu
atas terpisahnya kita
"lupa aku setapak jalan tempuh masa silam"
adalah aku terduduk dalam hitam
membiarkan bintang menghitung
butir rindu dalam setiap hela nafas
adalah aku yang tertiup angin
masa silam yang kejam
yang hanya menyampaikan rindu
tanpa meramu jarak dan waktu untuk bertemu
"ataukah aku hilang dalam pertualang?"
Th, 28-08-16
Hyd,
Showing posts with label Secret. Show all posts
Showing posts with label Secret. Show all posts
Saturday, 27 August 2016
Wednesday, 3 August 2016
Sajak Untuk Wanita
Monday, 1 August 2016
Surat Untuk Rembulan
![]() |
| mhdfaisal.files.wordpress.com |
Suatu sore, di satu desa
aku, berlari mendekati lampu jalanan
yang terang di tengah senja. Bergegas mencari penerangan saat mendung telah
tiba. Rembulan malam lah yang ku temukan di antara gemerlap sinar pelita jalanan.
Terang menyinari, indah mewarnai.
Namun waktu tak berpihak padaku. Begitu jahat sang awan merenggut kehadirannya. Ia hilang, jauh dan pergi, selanjutnya lenyap dan tak kembali.
Oh,...... rupanya musim telah berganti.
Musim penghujan tiba,
Siang dan tak peduli malam, ia (hujan) terus saja membasahi bumi. Saat itu aku sadar bahwa aku bagaikan pemburu liar yang tak
mengerti batasan, yang tak mengerti aturan. Bagaimana tidak, hanya akulah satu-satunya penikmat malam yang mencari rembulan di dalam hujan dan petir.
Ah.... lupakan saja rembulan, barangkali ada bintang-bintang, gumamku sembari senyum.
Untukmu rembulan; Mati besok setelah mengenalmu adalah kebanggaan
bagiku, dibandingkan aku hidup abadi di dunia ini namun tanpa mengenalmu. Ah lebaynya aku....
Ku minta, henyahlah kau rembulan hingga musim berakhir. Sekiranya musim telah berganti, datanglah! aku ingin menyaksikan kau bersinar seperti semula. Menerangi setiap pojok belahan bumi.
Yah.. datanglah lagi ke peraduanmu. Bertenggerlah di ranting, agar bisa ku saksikan lewat jendela kamarku.
Sebab, bila saatnya aku jatuh cinta sama satu bintang, ku ingin melihat kau (rembulan) kembali purnama.
Thailand, Agustus 2016
Ditulis oleh:
Hyd
Tuesday, 26 July 2016
Mencintai Dengan Bijak
Sebelumnya, biarkan surat ini melayang. Menjauh lalu menghilang. Ini hanya perihal aku yang kan dibunuh waktu. Usah kau kenang, sayang.
Untuk mu, yang bukan dia
Semenjak sehari seusai perkenalan kita,
aku termenung panjang meratapi hari-hari yang akan datang. Mengkhawatirkan
sesuatu, seolah ragu akan pertolongan Tuhanku. Tak perduli siang, apalah
artinya malam.
Ku lihat satu tangan menggenggammu dengan
erat. Kau tau? aku bagaikan dalam terowongan. Bingung, gelap, gelugutan,
kedinginan dan ketakutan. Aku terus menanti datangnya sinar di ujung sana. Sinar
indah yang datang dari rembulan tertidur lelap di bola matamu. Sinar indah dari
gemerlapan kejora dalam tawa mu. meskipun tanganmu terikat padanya. Ahh...
bodohnya aku
Detik yang berganti begitu berat, sayang
(maaf ku panggil sayang). Jadi, bisa dibayangkan bukan? bagaimana kala menit berganti
jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Kagumku
tak pernah pudar apalagi menghilang, meskipun ragamu semakin jauh dipandang. Berlalunya
waktu semakin jauh dan lenyap.
Sepeninggalanmu, aku terhuyung terbawa
setiap angin. Angin masa silam yang menguburku dalam-dalam. Serupa puisi Kangen
W.S Rendra yang menggerogoti jiwa. Rindu ini semakin dalam, menusuk hingga
tulang-belulang. Namun kepada siapa aku harus mengadu? Membayangkanmu tersenyum
dari kejauhan adalah kebahagiaan yang tak ada tara. Meskipun satu persatu
bintang memintaku gegabah, tapi, satu rembulan senantiasa memintaku mencintai
dengan bijaksana. Mencintai tanpa menyakiti hati yang lain.
Pada akhirnya, rinduku sampai pada
penghakiman. Harus ku serahkan semuanya pada-Nya. Do'a memang tak terlihat di
pojok bumi, namun melayang ke semesta. Cepat dan tepat jatuh di tangan
Tuhan.
Salam,
aku
Perindu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Pigura Kayu (Terdokumentasi dalam kumpulan puisi Padang Keladi) Pigura membawaku ke seberang pulau memahat ayu wajah ibu, ku tatap s...
-
today.line.me Sanggar Anak Alam (SALAM) merupakan pendidikan alternatif yang memiliki kurikulum berbasis penelitian/ riset. Masih bany...
-
Suatu pagi seorang bapak muda duduk dengan putranya. Ditengah kegundahan hatinya karena sedang sakit, bapak tersebut tidak bisa bekerja se...


