Saturday, 22 November 2014

Cerpen Perjalanan Hidup Penulis



***Gedung Sekolah***

Matahari pagi mengintip mesra menyambut makhluk titipan Tuhan yang ada dibumi, Seorang anak desa terpencil merupakan salah satu dari jutaan makhluk tersebut. Beranjak menuju Gedung Reok adalah rutinitasnya ketika matahari menyapa.  Oh iya sobat,  namanya Yudhi. Ia merupakan seorang anak yang dilahirkan di salah satu dusun yang amat terpencil dari sektor apapun yakni Dusun Padang Keladi ---bukan berarti tanah yang hanya di tumbuhi tanaman “keladi” yang berarti Talas dalam bahasa setempat--- namun demikian bukan berarti ia tertinggal sepenuhnya. Didikan organisasi sederhana itu membuatnya mengantongi sedikit keberungtungan dibandingan teman-teman sebaya yang ada di desanya. Kini dia merupakan satu-satunya utusan perwakilan pemuda desa yang berdiri hormat di kota budaya ini. Di keluarga inilah tempat yang ramai baginya saat itu meskipun sejatinya hanya terdiri Ayah, ibu, dia dan juga kedua adiknya. Namun kini semua suasana yang dulu  ia temukan dalam keluarga itu telah berubah dari semula rumah yang ramai kini berganti kostan yang ramah.
Pada tahun 1992, ia dilahirkan, tepatnya tanggal 22 november 1992. Seperti di atas, dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun hingga tidak terasa manusia kecil itu kini telah tumbuh menjadi anak-anak. Memasuki usia sekolah, tahun 1998 dia di daftarkan untuk menjelajah gedung kecil yang di bernama sekolah, ketika itu di Padang keladi hanya merupakan sekolah filial yang  masih menginduk pada desa Pongok. Pagi tiba, di hari pertama sekolah ia di dandan seolah anak perempuan yang ingin lomba menari. Ketika itu  teman kelas nya pertama terdiri dari 6 siswa, disana mulai terlihat gaya mereka seperti anak STM karena tidak ditemukan wajah anggun diantara wajah sangar mereka yang sehari-hari memegang peletik[1].  
Awan cerah dipagi hari mengiringi embun dingin nan sejuk. Berjalan dijalanan yang becek merupakan surga bagi beberapa anak di desa tesebut. Pun pagi ini sama dengan hari kemaren, meskipun matahari mengintip mesra namun sisa hujan semalam masih tergenang layaknya tumpahan air yang tak diterima bumi secara keseluruhan. Beberapa hari sekolah, tidak selayaknya siswa yang ada di kota yang merupakan lulusan TK, sehingga butuh perkenalan, kami disini terdiri dari 6 anak dalam satu kelas yang sejak dari lahir telah mengenal satu sama lain. Pada suatu pagi, layaknya sekolah yang lain, kegiatan pertama selain memperkenalkan diri  mereka juga diminta maju satu-persatu untuk mendendangkan sebuah lagu yang mereka hafal. Ketika 5 orang anak telah selesai, maka tibalah satu nama yang terakhir yakni Alex Candra, pada saat berada di depan kelas, ia sungguh berbeda dengan Yudhi dan temannya yang lain, ia bukan menunjukkan suara merdunya, namun ia menunjukkan wajahnya yang memerah hingga mengeluarkan butiran air mata. Sungguh tak disangka, seorang anak yang telah akrab dengan alam liar itu menangis hanya karana disuruh menyanyi di depan kelas.
“Alex, sekarang gilran kamu yang terakhir, silahkan maju kedepan” pinta pak guru yang akrab dipanggil pak Jun, nama lengkapnya yaitu Junaedi, yang tak lain adalah tetangga terdekat Alex Chandra.
Alex Candra maju kedepan papan tulis dengan ekspresi yang tak bisa dibaca, tanpa sepatah katapun  yang keluar dari bibirnya. Hingga 5 menit kemudianpun ia tetap membisu secara suara dan ekspresi. Keadaan tersebut membuat kelima temannya bingung sekaligus tertawa.
“Can, la kuang beehh nyanyi, lete neh kamek nunggu e”, ucap Sunyoto.
“Die agik mace du’e itu toooh” sambut seorang teman yang bernama Mario.
Tiba-tiba suasana hening melihat air suci membasahi pipi putih nan mulus Alex, ohhhh ternyata ia menangis dikarenakan kekurangan asupan percaya diri.
“Pukok e kau harus nyanyi Can, kamek semue lah uda nyanyi e, terserah lagu ape nak e, yang penting kau harus nyanyi” sambung seorang teman bernama Ranu sambil terbata.
“Iye Pak, lagu Cong Mak Ilong[2] kuang ke Pak?” Tanya Alex kepada Pak Jun.
Kini suasana berubah, Pak Junaedi yang akrab dipanggil pak Jun justeru yang bingung atas permintaan Alex Candra, karena hingga sekarang lagu Cong Mak Ilong tak terdaftar sebagai lagu Daerah apalagi lagu Nasional. Tanpa menunggu jawaban dari Pak Jun, Alex Candra langsung mendendangkan lagu tersebut dengan suara merdunya bak botol siisi pasir atau bebatuan kecil.
Cong mak ilong
Mak Ilong gaga batu
Dimana kucing belang
Disitu rumah hantu
Suasana sepi bagai rumah tak berpenghuni yang dipenuhi suara Jangkrik. Namun tiba-tiba, tanpa basa basi Alex Candra menyunggingkan senyuman yang merubah mendung dan hujan menjadi cerah layaknya kulitnya yang putih seperti keturunan China. Serentak kelima temannya bertepuk tangan atas keberhasilannya melewati tantangan terberat yang pernah ada dalam hidupnya.

***Air Sinsa***

Tidak lengkap rasanya jika seorang siswa kelas 1 SD berangkat kesekolah tanpa adanya bekal. Begitu juga dengan sekelompok siswa kelas 1 yang terdiri dari setengah lusin tersebut. Layaknya sekolah ditengah kota, merekapun membutuhkan bekal baik makanan dan minuman. Namun demikian makanan bukanlah hal yang wajib bagi mereka, karena itu bisa mereka dapatkan di lingkungan yang tak asing bagi mereka yakni hutan. Hutan dianggap sebagai restauran yang menyediakan banyak menu makanan bahkan jauh lebih lengkap dari restauran sekalipun. Bakat menjadi sekelompok pengusaha yang kreatifpun mereka tekuni dengan menciptakan minuman warna baru. Jika hari-hari mereka hanya minum minuman yang berwarna bening, maka pagi ini mereka telah menciptakan inovasi baru dalam kemasan yang lusuh dan berantakan. Layaknya kemasan minuman masa kini yang memiliki gas dan berwarna. Kini mereka tertarik untuk mencoba melakukan penemuan dengan membuat minuman dari pewarna. Adapun pewarna yang mereka gunakan berbahan dasar sinsa, namun demikian mereka menambahkan sedikit gula untuk menambah rasa manis dalam minuman meraka. Kekompakan dan kemandirian telah mereka dapatkan sejak lama. Ditengah abad yang serba ada begini sebetulnya mereka tidak heran jika bertemu dengan minuman sejenis dengan kemasan yang lebih rapi.

***Balik Untuk Tangkun***



Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna.
6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai).
Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-)

Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Make Money at : http://bit.ly/copy_win

***Perpisahan***

bertahun lamanya ia berjuang jauh dari keluarga, terbayang jelas sosok perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sekaligus petani, seorang laki-laki setengah tua namun masih gagah yang berprofesi sebagai seorang petani sekaligus nelayan dan dua anak kecil perempuan yang pintar dan jelita. Itulah keluarga nya yang ia tinggalkan kini. Tetapi dimatanya mereka bukan petani apalagi nelayan, mereka semua adalah pahlawan karena profesi itu telah menghantarkannya   berdiri tegak didepan Perguruan Tinggi serta tertunduk hormat diatas kota ini.
Setahun yang lalu, terlukis jelas wajah lugu seorang ibu dengan kesederhanaannya yang menghantarkannya menuju bandara dan tidak lupa dua orang anak kecil perempuan yang tak lain adalah adik kandung nya. Saat itu salah satu pahlawan nya tidak ikut serta dalam momen disiang itu. Dengan wajah gembira yang menutupi kesediah perpisahan mereka tunjukkan itu tak lain merupakan karena itu hari pertama mereka melihat pesawat terbang secara langsung. Bahkan sejatinya salah satu adiknya merupakan hari sekolah seperti biasa, namun ia memilih untuk memupuk air matanya dilantai bandara saat melihatnya terbang ke kota. Ribuan nasihat yang mereka berikan padanya, namun satu pertanyaan yang muncul dari mulut siswa kelas 4 SD yang tak lain adalah adiknya sendiri...
“bang ngape disetiap bahasa ade kosa kata menangis...?”
Terdiam sejenak ia untuk berfikir... namum belum sempat terjawab iapun berkata lagi..
“karne disanak juak ade kate tertawa”
Ia tertawa seakan melecehkan kata-katanya itu.. lalu ia bertanya..
“maksudnye ape itu Ka..?” Oh iya nama adik nya itu Antika, jadi panggilan pedek ia padanya “ka”. Sedangkan adiknya yang satunya berumur 2 tahun dan namanya Agustri.
                “menangis toh lambang sedih, susah payah, sedangkan tertawa itu lambang bahagia, jadi abang jangan takut susah payah karene kelak pasti ade bahagie”  kata-katanya begitu bijak bukan,,..?
                Sejenak ia terdiam dalam lamunan, sisa detik-detik perpisahanpun mereka habiskan dengan bercanda sesekali merenung karena ingin segera berpisah. Detik berganti menit,  hingga tanpa terasa pesawat akan segera “take off” namu sebelum masuk tangis perpisahan menghiasi perjalanannya, tak lain adalah siswa yang begitu bijak namun kini menangis tersedu-sedu. Hingga ia sadar ternyata adiknya begitu sayang padanya meskipun hari-hari mereka tak lepas dari perselisihan. Namun itu tak mengurangi rasa sayang nya pada adiknya itu.
                Sobat... ketahuilah saat itu merupakan pertama kalinya ia berada dalam pesawat. Hingga berlahan waktu berganti, kabut yang menutupi pulau belitung kini berganti kepulau jawa. Dengan tekat yang kuat tibalah ia di jakarta bersama tetangganya yang sama-sama menuju ke Jogja.

***SOETTA***

                Sedang asyik menikmati pemandangan hidup di sekitar bandara Soekarno Hatta, tiba-tiba HP butut nya berdering setelah beberapa saat ia matikan. Dengan sedikit rasa kaget bercampur rasa malu karena bunyinya sungguh jauh berbeda dengan HP orang-orang zaman sekarang hehehehehe...  tak lain adalah panggilan dari ibunya.........
                “assalamua’laikum” panggilan ia jawab dengan sedikit canggung di antara ratusan orang yang memiliki wajah modern masa kini.....
                “waalaikumsalam”  iapun mejawab.
“Agik dmane...?” ibunya bertanya lagi.
“di bandara mak..... kini baru nelpon y....” singkatnya ingin  metutup telpon ibu dari ibunya.
“oh iye lah mun gitu seh, kini nelpon e mun lah sampai jogja ye, assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam”
 Jujur saja waktu itu kepalanya masih terasa pusing karena ayunan ombak yang ia rasa saat di pesawat. Tak kuasa ia menahan lapar setelah beberapa saat menunggu pesawat menuju kota tujuannya yaitu Jogjakarta. Akhirnya ia memilih untuk membuka bekal yang di sediakan oleh ibunya yang sejak subuh dipersiapkan khusus untuk seorang putra yang kini terbang meniti jembatan masa depan yang sulit diperkirakan. Oh iya sobat perlu diketahui bahwa ia terbang hanya ditemani 1 tas tang bertuliskan ”BANGKA BELITUNG’’ yang tak lain adalah pemberian seorang ATLET nasional yang tak asing lagi baginya. Namun tas tersebut berada didalam bagasi pesawat sedari tadi. Namun kini yang ada dihadapannya yang ia gunakan untuk membawa bekal adalah tas yang sudah ia gunakan sejak kelas 1 SMK yang mana sudah memiliki bekas operasi dimana-mana. Namun itu bukan masalah yang berarti baginya ketika ingat tas yang digunakan ayahnya untuk membawa bekal ke lahan sumber pencarian, itu jauh lebih tua yang jika diperkirakan seperti manusia ia telah dalam kondisi kritis. Tetapi tiba-tiba tas itu pula yang membuatnya tersentak sedikit malu saat membuka resleting tas yang tidak bisa di kompromi sehingga membuat perutnya bersabar sejenak. Kini keberadaannya serasa dipenuhi oleh mata-mata orang yang pada dasarnya belum tentu melihat dirinya.






[1] Peletik biasa dikenal dengan nama ketapel yang merupakan senjata tradisional setempat yang memiliki fungsi seperti senapan. Peletik terbuat dari kayu bercabang yang ditambah dengan beberapa karet sebagai energi pegas serta belulang yang digunakan untuk meletakkan peluru yang biasa terbuat dari batu.

[2] Cong mak ilong merupakan lagu yang hingga kini belum terdaftar sebagai lagu daerah setempat apalagi lagu nasional.

[3] Tangkun merupakan pohon yang di desain dengan kayu sebagai alat bantu untuk memanjat. Tangkun dibuat senyaman mungkin layaknya rumah tarzan. Tangkun digunakan untuk mencari punai dengan proses yang dinamakan MULUT.
[4] Pulut merupakan alat yang digunakan untuk menjebak burung. Pulut terbuat dari getah karet namun terkadang juga dibuat dari karet bekas yang dibuat layaknya lem.
 

Sunday, 9 November 2014

Mengapa Rangga baru menghubungi Cinta setelah 12 tahun lamanya? Berikut alasannya.

Kemarin, Rangga dan Cinta kembali ke tengah kita lewat sebuah video pendek yang disponsori oleh aplikasi chatting. Di video itu, akhirnya cerita Rangga dan Cinta tak lagi menggantung. Namun apa alasan Rangga hingga harus menunggu selama 12 tahun? Berikut kemungkinan alasan Rangga harus menunggu selama 12 tahun, dilansir dari Hipwee, Sabtu (8/11/2014).

1. Rangga Sangat Sibuk dengan Pekerjaannya

Di sekuelnya yang berupa film pendek, Rangga tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang fotografer, sehingga dirinya melupakan Cinta, dan baru teringat kembali setelah 12 tahun lamanya.

2. Rangga Sekarang Jadi Irit

Bisa jadi sebenarnya Rangga sudah kangen dan ingin menghubungi Cinta sebelum waktu 12 tahun, namun dirinya sangat irit sehingga harus menunggu 12 tahun agar bisa punya ongkos menemui Cinta. Bayangkan saja jika dirinya harus pulang pergi Jakarta-New York.

3. Semua Gara-gara Buku “Aku”

Mungkin saja sebenarnya Rangga tidak memiliki niatan untuk menghubungi Cinta sama sekali. Namun semua berubah sejak buku “Aku” terjatuh dari raknya, dan hal itu membangkitkan kenangan lamanya.

4. Rangga Takut Sakit Hati Setelah Menghubungi Cinta

Seperti orang kebanyakan, biasanya kalau hendak ketemu dengan mantan pacar maka dirinya akan deg-degan dan takut tidak bisa move on setelah ketemu mantan pacar, apalagi Rangga dan Cinta sudah tidak bertemu selama 12 tahun. Rangga hanya takut sakit hati. Tolong mengertilah.

5. Rangga Pernah Menghubungi Cinta Tapi Tidak Dibalas

Kemungkinan lainnya adalah dulu Rangga pernah menghubungi Cinta dengan berbagai cara, seperti misalnya aplikasi chat yang kini banyak tersedia. Namun karena hobi cewek zaman sekarang yang gemar nge-read saja tapi tidak dibalas, membuat Rangga ragu untuk menghubungi Cinta kembali.

6. Cinta Sibuk dengan Pekerjaannya

Sama saja seperti Rangga, Cinta juga sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan Rangga. Sibuk atau tidak mau usaha? Hanya dia yang tahu.

7. Rangga Takut Cinta Sudah Punya Suami

Sekian lama tidak bertemu, Rangga punya pikiran kalau selama tidak bertemu itu ternyata Cinta sudah memiliki suami. Bisa gawat kalau pas dihubungi ternyata yang menjawab adalah suami Cinta.

8. Rangga Sebenarnya Sudah Punya Pacar

Cowok semisterius Rangga bisa banget punya pacar tanpa harus kelihatan. Lagian, apalah arti rakyat jelata macam kita yang gak pernah move on dari dia selama puluhan tahun. Bisa jadi kalau cewek yang menugaskannya untuk pergi ke Bangkok adalah pacarnya, bukan hanya sebatas rekan kerja.

9. Mungkin Cinta Sudah Pindah ke Bekasi

Tinggalnya Cinta di Bekasi membuat Rangga berpikir ribuan kali untuk bisa bertemu dengannya, karena jaraknya sangat jauh. Bagi Rangga masih lebih dekat Jakarta-New York dibandingkan Jakarta-Bekasi.

10. Dulu Tidak Ada LINE, Adanya BBM

Ketika Rangga dan Cinta lulus sekolah, hanya ada aplikasi BBM dan tidak ada LINE. Oleh karena itu Rangga bingung tentang kontak Cinta sekarang, dan akhirnya tidak bisa menghubungi Cinta. Kalau sekarang sudah ada fitur Find Alumni dari LINE.

11. Rangga Menghilang Tanpa Kabar

Mungkin sebenarnya Cinta duluan yang ingin menghubungi Rangga, namun apa daya, Rangga menghilang tanpa kabar pasti akan keberadaan dirinya sekarang.

12. Memang Benar Istilah ‘Cinta tidak Pernah Tepat Waktu’

Namanya cinta pasti tidak terduga, bisa cepat bisa juga lama. Dalam kasus Rangga dan Cinta, kisah cinta keduanya baru dimulai lagi setelah 12 tahun lamanya (sumber:jadiberita.com)

Short Movie bisa dilihat disini.

Puisi Rangga dan Cinta

Tentang Seseorang
Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci


Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat




 Aku Ingin Selamanya
Ketika tunas ini tumbuh, 
serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhembus adalah kata. 

 
Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan. 
Tangan kita terikat… Lidah kita menyatu… 
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu. 
Hahhh... Di luar itu pasir… Di luar itu debu… 
 
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada. 
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu. 
Jiwa ini tandu… Maka duduk saja… 
Maka akan kita bawa ... Semua… 
Karena kita adalah satu.




Ada Apa Dengan Cinta
perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.

Friday, 17 October 2014

Memori PPL UAD 2013 di SMP N 5 BANGUNTAPAN, BANTUL, YOGYAKARTA


Skripsi Anak Pongok

Dikutip dari catatan harian  Prayudha Magriby tentang proses skripsiku hingga mencapai hasil yang sesuai harapan.

Ini kisah adek kosku. Namanya Yudhi. Di Facebook, akunnya bertuliskan Yudhi Doank. Ya, kerena memang namanya itu doang. Nggak lebih pun nggak kurang. Khas nama anak pedalaman di Bangka Belitung. Pongok, tempat Yudhi lahir dan tumbuh memang cuma pulau kecil yang barangkali nampak sekecil semut di peta. Kalau di globe, bisa dipastikan pulau Pongok tidak terditeksi.

Yudhi sekolah di Pongok hanya sampai SMP. Untuk melanjutkan ke SMA, anak-anak Pongok mesti hijrah ke  pulau Bangka atau Belitung. Berhuntung orang tua Yudhi punya pemikiran yang maju. Dengan berbagai usaha, Yudhi bisa melanjutkan ke salah satu SMK di Belitung. Belitung dipilih karena Yudhi punya bibi di sana. Setidaknya, dengan “numpang” di tempat saudara, beban biaya sekolah Yudhi bisa sedikit ringan. Teman-teman Yudhi di Pongok sedikit yang bisa seberhuntung dirinya. Karena hampir mustahil melanjutkan, mereka langsung menjadi penambang timah tradisional. Pekerjaan berat dan penuh resiko tempat sebagian besar penduduk Pongok — bahkan Bangka Belitung — menggantungkan hidupnya. Saking bahayanya, tak terhitung sudah berapa nyawa hilang tertimbun galian timah, tak terkecuali beberapa teman Yudhi.

Selama di SMK, Yudhi dikenal sebagai siswa yang rajin. Bakatnya di bidang olah raga telah menghantarkannya menjuarai banyak turnamen. Terakhir, Yudhi didaulat sebagai atlit tenis meja di Pekan Olah Raga Daerah. Namun demikian, cita-cita Yudhi ternyata bukan menjadi atlit atau orang kantoran. Ia sedari lama sudah menyimpan hasrat untuk menjadi guru. Akases pendidikan yang luar biasa sederhana di Pulaunya, seringkali membuat Yudhi miris. Apalagi, jika melihat bagaimana nasib anak sebangsanya di Jawa dan pulau-pulau besar lainnya. Mereka seperti hidup di dunia lain yang tak terjangkau imajinasi anak-anak Pongok. Menjadi guru Yudhi pikir akan dapat sedikit merubah keadaan.

Untuk cita-citanya itu, Yudhi hijrah ke Yogyakarta. Ia akhirnya bisa diterima di salah satu universitas swasta di sana. Enatah kenapa Yudhi memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris. Mungkin saja selain bercita-cita menjadi guru dia punya “hidden agenda” untuk menarik wisatawan ke pulaunya. Ya, siapa tau saja. Selama berkuliah di kampus tersebut, Yudhi bisa dikatakan mahasiswa yang rajian. Saking rajinnya, tiap kali menjelang ujian, pasien-pasien datang memenuhi kamar kos Yudhi yang kecil. Pasien tersebut tidak lain dalah teman sekelas Yudhi yang berharap bisa mendapat pencerahan. Minimal pencerahan berupa catatan kuliah.

Dengan etos belajar yang demikian, tak mengherankan jika Yudhi bisa menjalani kuliahnya sesuai ketentuan. Di semester delapan Yudhi telah bisa menulis skripsi — yang dijurusannya disebut test..is, eh.. “thesis” maksudnya. Nampaknya, Yudhi sangat mencintai tesis yang tengah ia garap. Tiap malam ia lembur hingga pagi. Karena tak punya dispensier, seringkali ia mengganggu tidurku untuk meminta air panas. Mitos kopi dapat menjaga mata dari kantuk rupanya ia percayai juga.

Dalam keseriusannya bergelut dengan tesis, Yudhi semakin menjadi relijus. Terpampang tulisan besar di temboknya: “One Day One Juzz”. Ingat! Juzz bukan Juice. Tiap habis sahalat, terutama Maghrib dan Subuh, Yudhi membaca Qur’an dengan tartil. Pernah sesekali sang empu kos meledek target satu hari satu jus itu. Namun Yudhi tak bergeming. Ia mantap untuk istiqomah dengan menyelaraskan halaman tesis dengan halaman Qur’an.

Tak lama berselang, tesis Yudhi pun tuntas sudah. Tibalah hari penentuan. Hari di mana tangan dan kaki bicara. “kemana saja kita melangkahnya.a.a.a..” Ya, lagunya Bimbo tepat juga jadi soundtrack ujian tesis yang biasa disebut di kampus Yudhi sebagai “Pendadaran”.
Momen pendadaran — bagi siapapun tak terkeculai — merupakan hari yang menentukan. Hari di mana kuliah bertahun-tahun akan dibuktikan. Di situlah hari yang menjadi semacam jembatan antara dunia kampus dengan dunia nyata. Di situlah hari yang menjadi gerbang bagi kebermanfaatan ilmu bagi kehidupan. Di situlah hari yang menjadi ujung tombak keilmuan seseorang. Hari yang sakral dan suci bagi seorang intelektual!

Melihat sepak terjang Yudhi. Mencermati tesis Yudhi. Aku hampir bisa memastikan jika jerih payah Yudhi bisa diapresiasi secara maksimal. Pembimbing dan teman-teman Yudhi aku yakin pula punya pandangan yang sama. Namun, jalannya cerita seringkali tak terduga. Tiba-tiba saja muncul status di FB Yudhi, “...terserah padamu paduka...”

Status tersebut dilatarbelakangi keheranan Yudhi atas realitas di ruang ujian. Ia mengatakan jika sesaat sebelum ujian, suasana sudah mulai tak karuan. Jadwal ujianya dipercepat satu jam dari seharusnya. Ini untuk menghormati keinginan salah satu penguji yang notabene adalah “juru kunci” di jurusannya. Sekian menit berselang, sosok yang sangat dihormati tersebut geram karena salah seorang penguji lainnya tidak jua datang. “Telfon dia!” ujar sang penguji utama. Yudhi pun langsung mnghubungi penguji yang belum hadir tersebut. “Mohon maaf saya telat sebentar. Rapatnya belum selesai,” jawab sang penguji yang belum hadir. Nampaknya, rapat tersebut cukup penting. Saat Yudhi akan menjelaskan ke penguji utama, dia sudah terlanjur keluar ruangan. Yudhi pun menjelaskan sembari berjalan mendampingi penguji utama yang sudah berniat pulang.  “Kalau mau dapat A ujian di rumah saya!” ujar sang pembimbing utama yang sudah bersiap menyetop taksi.

Yudhi akhirnya menyerah. Dengan sedih dan penuh kebingungan di kembali ke ruang ujian. Selang beberapa waktu sang penguji utama kembali bersama penguji lainnya. Namun, salah seorang penguji telah diganti. Yudhi berpikir jika itu dilakukan agar situasi tidak menjadi lebih buruk. Kenyataannya, situasi sama sekali tidak berubah. Apa yang Yudhi takutkan terjadi. Baru saja memulai presentasi, sang penguji utama menyela, “Kamu itu nggak layak untuk Novel itu!”. Yudhi kemudian mencoba menjelaskan jika sang penguji utama tersebut telah meng-acc novel pun metode yang digunakan. “Itu karena saat itu kamu sudah hopeless!” tampik sang penguji utama. Yudhi pun mencoba menjelaskan namun pembimbimngnya memberi isyarat agar Yudhi tenang.

Ujian berjalan dengan penuh ketegangan. Jika wajarnya seorang penguji memberikan tujuh sampai delapan, hari itu sang penguji utama memberikan Yudhi 14 pertanyaan. Sudah dapat diterka nilai yang Yudhi dapatkan tak maksimal. Ia hanya memperoleh nilai B. Itu saja karena sudah diringankan oleh nilai penguji lain selain penguji utama. “Kamu kecewa kan!” tanya sang penguji utama entah dengan maksud apa. Dengan berat hati Yudhi mesti menerima nilai yang dalam hatinya tak sesuai. Salah seorang penguji, seorang ibu, mencoba menenangkannya. Ibu itu menawari Yudhi ujian ulang. Namun Yudhi menolak karena sudah tak lagi punya uang. Uangnya telah habis untuk persiapan pendadaran dan administrasi.

Beberapa hari setelah ujian, Yudhi sudah bisa menata hatinya. Ia sudah kembali seperti biasa. Menjadi penghuni kos yang penuh tawa. Hingga suatu siang beberapa orang teman sekelas Yudhi datang. Dia datang dengan membawa amplop berisi uang. Dia mengatakan jika itu uang jurusan. Uang itu diberikan supaya Yudhi bisa mendaftar pendadaran ulang.

Yudhi agak merasa ragu jika itu uang jurusan. Ia kemudian menanyakan perihal uang itu ke setiap teman kelasnya. Semua temannya mengatakan hal yang sama jika uang itu dari jurusan. Yudhi sampai mengancam tidak akan mendaftar jika teman-temannya tidak jujur. Akhirnya, salah satu temannya tidak bisa mengelak. Ia mengatakan jika uang 500 ribu itu adalah hasil iuran teman-teman. Sesaat setelah tahu apa yang dialami Yudhi, teman-temannya dengan penuh kesadaran patungan. Kurang dari sehari uang sebesar itu bisa terkumpul.

***

Yudhi menceritakan usaha teman-temannya padaku dengan mata berkaca-kaca. Jika saja suasananya tepat aku pastikan di menangis terharu. Aku pastikan jika kelak Yudhi pendadaran, saat keluar ruangan, melihat teman-teman sekelasnya, ia pasti akan menangis penuh haru. Betapa persahabatan bisa sekuat itu. Betapa persahabatan mampu melawan kesewenang-wenangan dengan cara cinta.

Yudhi, aku mungkin nggak bisa ikut iuran duit. Kamu tahu sendiri jikau kita sama-sama mahasiswa “kere”. Mahasiswa yang kuliah untuk mengubah nasib hidup. Mahasiswa yang terlahir dari ruang terpencil dan berharap menjadi secercah terang di sana kelak. Tapi Yudhi, aku cuma bisa menuliskan ini agar kita semua belajar. Belajar menjadi pribadi yang welas asih. Pribadi yang bisa rendah hati; secerdas atau seberkuasanya apapun kita. Hehehe…..

Wednesday, 1 October 2014

Diusir Cantik

Sungguh hujan dan angin menjadi satu,
Petir dan kilat menjadi pelengkap rindu,
Malam nanti ia berjanji tuk kembali,
Sekedar meneguk haus dari luar jangkauan imajinasi,
Rindu ini milik siapa?
Meski ada tanda tanya, namun tak butuh satu jawaban,
Ohhhhh maaak, temaram hancur ditikam angin malam.
Berjalan menelusuri jejak yang rapuh,
Ditengah hujan dan dingin, kilat dan petir
Berhenti didalam lorong gelap,
Hanya untuk sekedar bersujud dan mengadu,
Berteriak, aku rindu,
Kedinginan, menggigil, kebingungan,
Ooohhhhh ternyata.......
Aku telah diusir cantik oleh kota Jogja,
Meskipun kemaren kita baru jumpa,
Kemaren kita menatap senja,
Melawan sang waktu,
Bermanja dengan sang rindu,
Milea,.....
Lupakah kamu dengan amarah sang malam,
Ketika kita diperangi kedinginan,
Waktu...
Maafkan kami telah membunuhmu,
Malam...
Jangan marah hanya karena kami terlambat pulang,
Rindu...
Bangunkan semangat baru untuknya dan untukku,
Ohhhhh... aku kan akan menjadi sang perindu,
Antara Kau, ibu dan dia.
Buat ibu,
Anakmu kini bukan hanya anakmu,
Sudilah kiranya anakmu berbagi rindu,
Pada wanita anggun sepertimu,
Pada sebuah senja di bukit itu,
Senja kota, bawa dia kepelukanku
Nanti.

Diusir cantik,
Jogja, 02 Oktober 2014

Hujan dan pertemuan terencana

Oleh: Ikmi Nur Oktavianti

Betapa kami mengagumi hujan,
Pecinta di atas bumi,
Dengan senyum mengembang dari wajah peresih,
Kami sambut setiap tetes yang mengenai kulit ari
Seperti belaian lembut yang menyeka tiap peluh kehidupan yang terperi
Dan mengenai helai-helai rambut kami
Bak seorang bayi dilangir seorang inang yang penuh kasih
Dan tetesnya yang mengenai bumi, beriringan,
Seperti para biduan yang mendendangkan lagu-lagu, beranggap-anggapan
Ah, kami mulai paham
Seperti telah terjadi persekutuan hati, langit dan bumi
Seperti ada pertemuan terencana, atau juga janji keduanya.
Maka lagi malam ini kami menelusur jejak hidup, menelusur perjumpaan terencana malam ini
Dengan temaram lampu kota di kanan kiri
Angin mulai digagahkan, dingin mulai diselimutkan di selingkup atmosfer
Supaya beroleh rintikmu mengunjungi bumi
Padahal baru kemarin kalian berbagi sapa, lewat pesan rahasia
Dan hujan yang tiada kunjung reda
Ketika kecup tulusmu menyentuhnya,
Bumi berkata: “lekas engkau datang!”
Meski masygul rasa hati
Karena petrichor yang tersesap masuk ke lubang hidung
Menyeruak dari pori-pori tanah bagaikan bunga selasih kayalnya
Memabukkan
Suatu perasaan yang tidak mungkin dinafikkan
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Turut bersuka atas cinta yang tersampaikan, atas rindu yang tersalurkan, meresap hingga ke dalam
Hingga nyaris tengah malam,
“Telanjuran”, kata bumi
Memang benar adanya
Percumbuan yang berlangsung begitu lama, mesra
Malam pun merasa tersakiti, dikhianati oleh bumi yang tiada mau peduli
Memohon bulan berhadir, pula bintang lekas melepaskan diri
Hingga terdengar oleh keduanya,
Pertanda percakapan hati harus diakhiri
“Esok aku akan kembali” kecup lembut hujan pada bumi, membawa pesan terakhir langit hari ini
Perlahan… kecup cinta dilepaskannya dari bumi, ditariknya
Meski berat, tetap ditariknya.. sembari mengempaskan segala rasa..
Dan hujan pun undur diri, menyibak kumpulan awan,
Bulan bintang terlepas dari himpitan, bercahaya menawan.
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Menjadi bagian dari percintaan, tengah malam ini,
Tak peduli dingin yang menggerayangi persendian
Karena hujan mampu menerjemahkan perasaan,
Dari langit untuk bumi yang belum tersampaikan
Karena setiap tetesnya sarat makna perjumpaan teramat sayang untuk ditumangkan,
terlebih diabaikan
Tiap tetesan yang membawa pesan cinta tersembunyi
Yang hanya mampu dipahami bumi.

Pigura