Sunday, 24 January 2016

PAK NAM BEACH, LANGU, SATUN, THAILAND


Object : Beaches
Location : Pak Nam Satun, Thailand
Date: 23 January 2016
Camera : Lenovo A7000
Taken by : Yudhi Hyd

Pantai yang terdiri dari dua view (Pemandangan) yaitu, lautan luas di sebelah kanan, lalu sebelah kiri tebing yang membentang tinggi membuat pantai ini lebih menarik untuk di kunjungi. Letaknya juga sangat dekat dari resort / penginapan, sehingga sangat memungkinkan bagi anda untuk menghabiskan senja hingga fajar disana. Cocok untuk rekreasi keluarga apalagi bulan madu, :-D 

Note; bukan endorse, hanya sekedar berbagi informasi.














Friday, 22 January 2016

Rembulan Cemburu

Kala ku sebut namamu, Rembulan cemburu


Gelugut kedinginan, gerah kepanasan. Malam yang tak pernah dilewati purnamanya. Cakrawala Jawa dimata bujang melayu memang luas, seluas kali progo, atau kali code? Ah apalah itu. Malam ini purnama kalah terang dengan jiwa Zamri.


Setelah perhelatan hebat disiang hari, Zamri tak habis pikir dengan apa yang dia katakan tadi. Beribu bayangan didalam benaknya. Zamri merenungi  bagaimana seandainya kegagahannya siang itu disaksikan ayahnya. Lalu, kebanggan Zamri pula tumbuh begitu hebat tatkala ia menyaksikan Ismi dari kejauhan, walaupun Ismi tak meliriknya sama sekali. Usahlah terkesimak, melirik saja Ismi dipastikan tidak. Namun inilah Zamri, manusia yang akan hidup sebelum mati. Zamri merasa dirinyalah yang terhebat kala itu. Tak ada yang lain selain dia.


Begitu gagah Zamri malam itu. Dengan sebilah kertas ditangannya seperti malam-malam biasanya, serta seranting pena dan sejuta inspirasi dikepalanya. Zamri siap melawan dinginnya angin malam diatas genteng peraduannya. Bintang hanya nampak sedikit saja, namun bulan sedang purnama. Zamri merayu bulan agar tertelap dimata Ismi. Sesekali bulan berkedip, lalu Zamri balas. Zamri seakan menganggap rembulan sedang mengajaknya bercanda.


Hidup adalah malam

Sejak ku tau rembulan bersemayam dimatamu

Semenjak bintang bersemai di senyummu

Syairku gelap, gurindamku mati,

Darah melayuku tak bernadi

Jatuh diatas namamu, kekasih

Siti Nurismi.

Jogja, Mei 2011


Sebuah puisi cinta untuk Ismi dari Zamri seakan membangkitkan malam yang sedang terlelap. Zamri membesarkan nama Ismi lewat puisinya. Zamri seakan memperkenalkan kepada malam bahwa kasihnya bernama Ismi. Seakan memberitahu bulan dan bintang bahwa Ismi, dan hanya Ismi tak ada Ismi seri II, Ismi Part II dan seterusnya. Hanya satu itu. Siti Nurismi. Singkatnya Zamri sedang jatuh cinta setengah mati sama Ismi.Karena mengagung-agungkan nama Siti Nurismi, rembulan seakan unjuk gigi. Protes dengan semua tingkau Zamri. Zamri merasa dirnya sedang berada di pengadilan. Malam semakin diasanya semakin gelap. Sungguh Zamri sedikit khawati. Panjang lebar Zamri berdiskusi dengan rembulan

―Zamri, apa kelebihan Ismi?‖ Tanya rembulan

―Yang mulia sang Rembulan, banyak sekali kelebihannya‖

―Uraikan padaku‖

―Pertama ku lihat, Ismi tak pandai berdandan, yang mulia‖


Sesekali Zamri membenarkan caranya duduk dibawah hadapan sang

rembulan.


―Lalu apalagi?‖

―Tutur katanya lemah lembut, yang mulia?‖

―Bagaimana caranya kau bisa jatuh cinta pada wanita yang tak bisa

berdanadan, wahai Zamri‖

―Usah kau tanyakan, itu kelebihanku‖

―Sementara aku senantiasa berdandan, menyambutmu ditengah malam.

Memberikan perintah pada bintang, kala aku terlelap‖

―Jika begitu, Zamri mohon undur diri, yang mulia‖

―Tunggu, Zamri. Lantas bagaimana dengan aku yang selalu kau puja?‖

―Untuk kali ini saja, kau kalah rasanya dengan Ismi‖


Sang bulan terdiam, Zamri tersenyum melihat rembulan seakan kalah
dengan Ismi dimatanya. Sesekali rembulan masuk kedalam persembunyiannya
dibalik awan hitam.


Lama sekali Zamri menantikan kehadiran rembulan lagi, namun tak kunjung datang. Entah kegilaan apa yang sedang merasuk rembulan, yang pasti ingin sekali rasanya Zamri meminta maaf padanya sebab telah membanding-bandingkannya dengan Ismi. Zamri tak dapat tidur memikirkannya. bagimana dengan besok dan seterusnya apabila malam tak lagi menghadirkan rembulan untuk dipuja. Maka matilah sebagian inspirasi penyair semacamnya. Zamri gelisah bukan main.


Zamri turun menuju peradaban dunia nyata. Tepat pukul dua tengah malam. Sesekali Zamri membuka pintu, barangkali ada rembulan mengintipnya mesra. Namun tak ada. Sepertinya rembulan murka. Pelan namun sangat jelaa terdengar suara alam seakan marah. Malam mengirimkan gemuruh. Usahlah rembulan, bintangpun kini lenyap, yang ada hanya hujan ditengah malam itu. Rembulan cemburu, malam tak bersahabat. Zamri terlelap dengan sejuta senyuman mengenang nama Siti Nurismi.

Thursday, 21 January 2016

Sebuah Persimpangan


Ismi, aku tertawan rindu padamu setiap waktu. Apabila mendung dan hujan, ku tau kau lah mentari. Sebab meski sembunyi, kau ada.

Zamri pergi meninggalkan Ismi, akan tetapi berlalunya waktu, Ismi mulai merasa terbiasa. Ismi memahami jika ini hanya perpisahan secara jarak dan masa, yang mana hanya  ahli matematika dan fisika yang pandai menghitungnya. Sedang Ismi dan Zamri adalah sarjana bahasa, sehingga tidak ada kekhawatiran dalam jarak dan masa.

Ismi, ketahuilah; Zamri bersabda (lagi), begini;
Aku bersyukur bisa meninggalkanmu.
Aku bersyukur bisa jauh darimu.
Aku bersyukur karena tidak bisa menyaksikan senyummu.
Aku bersyukur karena tidak mendengar tawamu.
Aku bersyukur tidak disisimu setiap waktu, sebab;

         Rindu ini tidak akan membunuh, rindu ini akan semakin hidup, tumbuh dan berakar. Tetapi dengan berpisah, kita akan paham kemana larinya ketika kita sedang rindu. Kadang ketika jatuh cinta bibir terlalu terburu-buru mengungkapkan, lidah senantiasa selalu menggoreskan. Sesungguhnya tanpa lidah dan pena cinta itu lebih suci. Percayalah do’a tidak akan kehilangan tuah dimata Allah. Jalan kita sudah lurus, hanya saja masih panjang.

Ismi, aku hanya berharap suatu saat bisa mengungkapkan “Apabila itu tentangmu, aku bisa mendengar yang tak kau ucapkan, mengerti yang tak kau jelaskan”


—Zamri Haidir—

Ayah

            
Kau papah daku turun dari puncak bukit
Menapaki tanah kuning, katanya surga para petani
Kulempar capingku ke hutan belantara
Usah kau ambil lagi, ayah
Usah wariskan paculmu
Usah wariskan capingmu
Cukup bagiku kegagahanmu
            
Ayah..
Daku pergi, kian menjauh darimu
Kadang ku rindu bau keringatmu
Kadang ku rindu derap langkahmu
Bawa daku kebukit itu,
tempat pengasingan kau pula aku
Bukit ritang, tanah melayu


Tanah Jawa,    Oktober 2010

Wednesday, 1 July 2015

SEPI


Memang
Angin menderu tak berarti badai.
Tanyakan saja pada alam,
dimana kita?
Seandainya dipantai
Pastilah angin kan bertiup kencang
Serupa angin menggesek laut luas dan ombak ada.
Hingar bingar ombak dipantai menjadi hal yang lumrah,
Jika tentram dan diam maka dihutan lah kita.
Tuhan, aku dimana?
Ketika aku sepi dalam keramaian.

Tuesday, 2 June 2015

Rindu


Dalam
Rupa wajah kian samar
Buram tak berbinar
Melebur jadi satu dalam gelap
Dalam mendung rantau yang tak beda
Kau tetap wanitaku
Wanita yang cakap tanpa dandanan
Setiap penaku digoreskan
Butir ingat tentangmu pasti ada
Meski dalam gelap dan kutulis meraba
Apa kabar Juwitaku nan jauh disana.

Thailand, Summer 2015

Thursday, 14 May 2015

Hal yang tidak ditemukan di Indonesia ketika di Thailand.



Thailand, ini hari ke 20 kaki ini berada dibagian dari Negara Gajah Putih itu. Namun yang tampak hanya burung gagak. Dari sejak dimalaysia sampai disini sepertinya burung Gagak memang banyak. Umumnya dari seseorang yang mendapati lingkungan baru, mereka akan melihat perbedaan. meskipun sebetulnya yang dicari adalah persamaan. Bisa jadi pula seseorang yang mendapati lingkungan baru akan mendapatkan masalah dalam menyesuaikan diri. Cultural Shocking adalah salah satunya. Banyak dari mereka mendapatkan hal ini dalam hal rasa makanan, bahasa dll.
        Pagi ini, sekolah kami (resmi menjadi bagian), Suksasat School yang terletak di Kaophra, district Songkhla, Thailand mulai aktif. KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang kini mulai dijalankan. Beberapa minggu sebelumnya sudah melakukan perkenalan dengan guru guru lokal, jadi tidak ada alasan lagi untuk mengulangi masa perkenalan. Pun begitu juga dengan siswa baru, satu minggu sebelum KBM resmi, siswa baru mulai memperkenalkan diri dengan sekolah yang ketika itu didampingi oleh orang tua masing-masing. Suasana pagi ini sedikit membuyarkan ingatan tentang suasana sekolah yang ada di Indonesia. Bukan tentang SDM, karena dimana saja semua SDM dalam sebuah sekolah pasti sama. Ada guru (Khun Khru) ada juga siswa-siswi (Nak Rian) dan juga ada kepala sekolah (Po O). Itulah kiranya unsur SDM yang setidaknya harus ada seperti yang ditampilkan Andrea Hirata dalam laskar pelangi, meskipun bisa jadi seorang kepala sekolah menjabat juga sebagai guru kelas atau mata pelajaran. Semua sama entah itu di Indonesia ataupun di Thailand. Yang membuat mata ini tercengang adalah:

1.       Tradisi Rotan.
Tradisi ini masih dijalankan disetiap sekolah. Bahkan sepertinya rotan merupakan benda kesayangan setiap guru dan juga sekaligus benda yang sangat ditakuti oleh siswa dan siswi seperti layaknya benda keramat yang membunuh. Sekolah ini, merupakan tempat pertama kali saya meelihat seorang guru membawa rotan kecil setiap masuk kedalam kelas. Pernah saya bertanya, bagaimana dengan seorang guru “Bang, ini ape? Karena kebetulan guru yang satu ini bisa berbahasa melayu, khususnya melayu ke-Indonesia-an. Lalu dia menjawab dan bercerta bahwa “Ini merupakan senjate ampuh buat die budak yang nakal, yang tak bule didiamkan dengan mulut je. Kau tak kan liat adab ni di Indo, kerene ni hanye ade di Thailand je. Benar saja, inni pertama kali saya mellihat seorang guru dengan rotan andalannya. Lalu ia kembali bercerita bahwa, dulu ada seorang guru dari Indonesia yang diberi kewenangan untuk menggunakan rotan. Namun dengan tegas ia menolak lantaran di Indonesia tidak mengenal tradisi semacam ini. Jujur saja, saya sedikit kaget memang mengingat kerasnya pukulan nyang dihasilkan oleh benda itu. Namun inilah sebuah tradisi. Tradisi yang telah lahir sejak jaman nenek moyangnya dahulu.
2.       Bedak atau pupur.
             Bedak yang umumnya dipakai untuk menjaga kulit terutama bayi. Bedak juga dipakai oleh kalangan wanita. Begitu tradisi yang ku kenal selama di Indonesia. Meskipun ada yang lelaki yang memakai bedak namun rasanya merupakan hal yang aneh ketika diperlihatkan secara mencolok. Berbeda dengan Thailand, pertama kali saya masuk ke Negeri Gajah Putih ini seorang lelaki tua memperkenalkan saya dengan tradisi ini melelui lehernya yang dipenuhi bedak. Pernah saya berpikir barangkali lehernya sedang mengalami iritasi atau sejensnya, namun ternyata bukan, karena selang beberapa menit lelaki tua yang lain juga mengenakan bedak dileher bagian belakang. Lalu datang lagi lelaki lelaki yang lainnya. Pernah saya bertanya “ni arai?” (ini apa?). lalu dengan penjelasan panjang lebar menggunakan bahasa kebanggannya ia menjelaskan “disini musim panas, jadi kebanyakan dari kami menggunakan ini setelah pulang dari bekerja” benar saja, melihat perputaran musim yang memiliki 3 musim, musim panas merupakan musim mematikan dithailand. Karena sangat sulit ditemukan orang orang keluar rumah disiang hari terutama ditengah hari. Sehingga jika memang terpaksa keluar seperti bekerja (mayoritas ditempat saya tinggal adalah petani karet) mereka akan sangat merasakan panas yang berlebihan.
             Tradisi bedak ini diperkuat setelah hari ini, masuk sekolah dimulai. Ada beberapa barang yang tak biasa saya lihat di Indonesia. Dalam setiap kelas, Guru kelas atau wali kelas membagikan bedak kepada siswa siswi setelah instirahat ditengah hari dan sholat dzuhur. Dengan sangat teliti seorang guru kelas yang ketika itu adalah seorang guru lelaki membagikan bedak untuk mekudian digunakan dipipi dan leher. Sedikit risih buat saya karena ketika itu jam pelajaran saya (Bahasa Inggris) sudah dimulai namun mereka masih menggunakan bedak dan sibuk dengan pembagian bedaknya. Namun disisi lain sangat terhibur melihat polosnya siswa dan siswi menggunakan bedak secara sembarangan dan dengan bentuk yang tidak beraturan.  Sambil tertawa mereka saling membubuhi bedak diwajah temannya. Sehingga sangat memungkinkan pakain mereka kotor oleh bedak.
3.    Salaman
            Salaman, merupakan tradisi islami, dimana saja salaman selalu menggunakan tangan. Tidak dengan menggunakan kaki, karena semua pojok dunia akan mengatakan tidak sopan ketika salama menggunakan kaki. Yang membedakan dengan Indonesia dan (mungkin) negara lain ialah cara melepas salaman. Umumnya kita akan menemukan ketika setelah salaman orang pasti meletakkan tangannya kembali di dada. Atau ketika anak kecil sedang menyalami orang tua mereka akan mencium tangan orang yang lebih tua yang mereka salami.
             Ketika dimasjid, pernah sekali saya menyalami orang yang lebih tua kemudian saya mengisyaratkan hendak mencium tangannya, dengan sangat cepat dia menarik tangannya. Sambil tersenyum ia bertanya kepada saya “khun ma cak Indo?”  lalu saya jawab “khab”  yang artinya saya meng-iya-kan pertanyaannya. Kemudian dia tersenyum kembali. Dengan seribu tanda tanya di kepala saya, saya akhirnya ikut tersenyum.
            Pagi ini, ratusan siswa datang, satu persatu mereka menyalami saya dan menambah keyakinan bahwa apa yang saya lakukan dimasjid kala itu kurang tepat. Dengan rasa hormat siswa-siswi menunduk ketika berada didepan saya lalu menyalami. Dan yang berbeda adalah setelah salaman mereka meletakkan telapak tangan mereka dimuka. Bagaikan orang yang sedang wudhu (meraup air dimuka). Lalu dalam hati saya bertanya “apakah saya sudah cuci tangan tadi pagi?” lalu muncul lagi “bagaimana jika saya habis makan Jengkol lalu lupa cuci tangan? Mungkin muka mereka juga akan dipenuhi aroma jengkol.” Entahlah. :-D  

Tunggu yang selanjutnya

Pigura