Thursday, 23 November 2017

PENYADAP TERAKHIR


Cerpen ini sudah dibukukan dalam kumpulan cerpen "Cha Yen" yang merupakan gabungan mahasiswa dan pengajar di Thailand.

oleh: Haiyudi
“Ibu tidak capek?” 
“Tidak sama sekali” Seorang wanita mengelap keringat di dahinya.
Semilir angin meniup basah pundak pekerja pagi itu. Membuang jauh gurindam Melayu, menggeser peradaban negeri ibu pertiwi. Sang fajar mulai menunduk hendak berpamit. Duh, Keindahan apalagi yang ada di dunia ini? Tidak ada, kecuali masa pergantian peran rembulan dan mentari, Fajar dan Senja. Belum penuh mentari menyapa, bahkan dinginnya aspal menjadi pertanda pekat. Angin pagi masih sibuk mencari tempat bersandar. Kokok ayam terasa sumbang didengar, tersebab sang tuan belum membukanya dari kandang.
Mendapati diri yang terjaga setelah subuh, Enggal Suroso memilih keluar dari peraduan. Dari namanya jelas Enggal, atau Suroso bukanlah orang Thailand masa kini. Lelaki berperawakan Jawa kuno itu adalah seorang guru muda. Ia diasingkan oleh kampusnya keluar dari negerinya sendiri. Konon kabarnya untuk menghindari stress berat akibat memikirkan negaranya. Sebab sejak dulu, ia dikenal sebagai mahasiswa pemikir. Seperti mau mandi misalnya, ia selalu berpikir panjang. Sudah, ini bukan kisah Enggal Suroso
Dengan bekal bahasa yang pas-pasan dan seadanya, Enggal tidak sulit untuk berinteraksi kepada warga setempat.  
Pagi itu, dengan kamera seadanya, Enggal mencoba mencari objek gambar, namun yang nampak adalah berbeda. Sayup-sayup suara seorang wanita tua berbincang dengan anaknya. Suara reot dan rantai yang bergesekan pula menandakan sepeda tua yang ditumpanginya tidak kalah tua dari usianya.
“Ibu, jika sudah sampai sekolah, terus aku bagaimana?” suara si anak memecah embun di tengkuk Enggal. Tiba-tiba suasana menjadi hangat. Semakin dekat dan jelas bayangan dua anak-beranak itu di depan Enggal.
“Ibu, jangan pergi dulu, aku takut sendirian. Kan masih gelap” Sambungnya
Enggal sedikit terperangah dengan pemandangan itu. Seorang anak dengan pakaian sekolah rapi, berkaos kaki serta membawa bekal dalam plastik asoy hitam sedang duduk diatas sepeda tua yang di tuntun ibunya. Enggal melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 05.30. Enggal tersenyum kebingungan.
‘Guruuuuuuuuu” panggil si anak
“Hai...., pagi sekali?” Enggal bertanya dengan senyuman
Dilihatnya sang ibu hanya tersenyum, tanpa sepatah katapun terucap. Pakainnya sangat kumal, khas petani karet. Bahan hain seakan berganti beerbahan karet. Enggal masih kebingungan.
“Iya, ibu mau pergi mengumpulkan getah karet di kebun milik orang”
“Jauh?”
“Jauh, Guru” Yang tampak hanya senyuman dari wajah si anak dan ibu.
“Saya pergi ke sekolah setiap pagi seperti ini, sebab biar bisa di antar oleh ibu. Jika tidak, saya tidak bisa pergi ke sekolah, karena Ayah juga bekerja namun di tempat yang berbeda”
Panjang lebar penjelasan si anak yang belakangan Enggal ketahui bernama Surayut Sukkeaw. Sungguh nama yang sama sekali tidak bernuansa Jawa apalagi Melayu. Singkat cerita, Enggal meminta Surayut menunggu mentari terbit di rumah tempat Enggal tinggal, namun rayuan Enggal tidak berhasil melumpuhkan Surayut. Ia lebih memilih menunggu di depan gerbang sekolah yang tidak jauh dari tiang bendera hingga mentari muncul dan ayam keluar dari kandang.
“Dia adalah guru saya” Ujar Surayut kepada Ibu
“Jika aku besar kelak, aku mau menjadi guru sepertinya” Ujar Surayut kembali. Ibunya hanya tersenyum kembali mendengar ocehan anak SD Kelas 4 itu.
Pelukan hangat seorang ibu nampak membuat Surayut nyaman. Tidak ada pemberontakan sedikitpun dari Surayut. Tiang bendera, sepeda tua, Surayut dan ibunya. Itu membuat Enggal tertegun dari kejauhan. Barangkali Enggal sedang merindukan pelukan seorang ibu jua.
Mentari muncul seiring dengan bunyi sepeda ibunda Surayut yang meninggalkannya sendirian. Tidak ragu sang ibu menitipkan Surayut pada mentari pagi itu. Surayut pun jua sama, tidak ragu melepas kepergian ibunda dengan sejuta senyum mengembang. Mekar sekali layaknya senyuman mentari pagi itu. Enggal yang menyaksikan pertunjukan semesta itu jua ikut tersenyum lebar, sehingga menampakkan bibirnya yang tebal serta hidungnya yang pesek. Namun Enggal bahagia tak terhingga pagi itu. Sejak pagi itu Enggal tidak ingin melewatkan pertunjukkan alam itu.
***
Pagi terus saja berganti, penikmat pagi mendentingkan cangkir dan sendok dalam hangatnya kopi.
“Enggal, ayo ikut saya ngopi dulu sambil memakan roti” Ajak Abdullah Naser
Seorang lelaki melayu yang berasal dari Pattani, dari ceritanya ia berhijrah ke tanah tetangga, Songkhla dengan hati yang ikhlas. Ia menikah dengan seorang gadis jelita anak petani karet. Singkat cerita mereka tinggal tidak jauh dari sekolahan tempat Enggal mengajar.
Jelas saja Enggal tidak menolak kesempatan emas itu. Seribu satu kisah mereka suguhkan di warung kopi ala negeri gajah ini. Abdullah bercerita banyak tentang keadaan masyarakat di sekitar. Hampir setiap seluk-beluk desa ia pahami. Ia mengerti semua yang terjadi dan kabar berita yang ia terima selalu up to date  sebab ia adalah kepala desa setempat. Ini merupakan hal yang jarang ditemui, seorang yang berasal dari 3 wilayah memangku jabatan sebagai kepala komunitas apalagi kepala desa mengingat sejarah kelam ketiga wilayah tersebut.
“Setiap pagi saya melihat anak-anak diantar ibunya bersepeda” Enggal bercerita
“Oh... itu anak dusun sebelah, rumahnya jauh di dalam hutan karet” Jawab Abdullah
“Ia selalu bersepeda?”
“Iya, keluarganya sederhana. Beliau juga bisu, tidak bisa berbicara”
Enggal terdiam, kebingungannya terjawab. Bibir si ibu memang tidak berucap kala itu, namun senyumnya tidak hilang di terpa badai. Betapa senyuman itu mengalahkan ucapan manis apalagi bualan. Enggal terdiam sejenak.
“Mengapa?” Sambung Abdullah
“Saya selalu memperhatikannya setiap pagi” Ucap Enggal seraya membetulkan posisi duduk
“Besok kamu ikut saya ke rumahnya”
“Ada apa?” tanya Enggal kebingungan
“Saya selalu melakukan kunjungan berkala ke rumah warga yang berada di pedalaman kebun karet”
Enggal tentulah sangat senang dengan ajakan itu. Tidak ada alasan bagi Enggal untuk menolak ajakan semanis itu. Sungguh itu lebih manis dari Roti Canai  dan Cha Yen yang sedang mereka cicipi. Dirasakan olehnya gemulai angin bahagia, itu terlihat dari semerbaknya dara yang berterbangan. Para pemangku agama Budha berdatangan di setiap rumah untuk mendoakan umatnya lalu menerima sejumlah bekal sebagai imbalannya. Angkutan umum kecil yang terkenal dengan namanya “tuk-tuk” juga datang dan berhenti mengantarkan penumpang di berbagai tujuan. Semua itu membuka mata Enggal kembali bahwasannya ia bukan di negeri pertiwi. Enggal bahagia, tersenyum dan melanjutkan makan. Seribu satu percakapan ala Melayu kampong mereka lakoni, Abdullah dan Enggal kadang mendapati kebingungan tersendiri dengan kata-kata yang didengar dan diucapkan masing-masing.
***
Kokok ayam membangunkan Enggal seperti biasanya, namun dinginnya embun memanjakan Enggal untuk berada di dalam rumah. Mentari meninggi seiring dengan pongahnya serunai belakang rumah Enggal menandakan janjinya dengan Abdullah untuk Blusukan telah tiba.
“Jangan kaget dengan semuanya” Abdullah meyakinkan Enggal
Enggal hanya membalas dengan senyuman
Berliku jalan mereka lalui, sejak kalimat “Jangan kaget dengan semuanya” mereka baru benar-benar memasuki sebuah pertualangan hebat. Jalan berbatu, sungai, jembatan sebatang kayu, jalan di bawah rindangnya pepohonan karet, akar pepohonan, serta monyet-monyet menjadi penghias perjalanan Enggal pagi ini.
“Apakah kita tidak terlalu pagi, Bang?”
“Perjalanan kita akan memakan waktu 2 jam, Enggal. Jadi, di perkirakan kita akan sampai di perkampungan pada pukul 10. Dan saat itu mereka akan berada di rumah, sebab itu adalah masa-masa istirahat dari mengumpulkan getah ” Jawab Abdullah
Enggal hanya mengangguk,
“Mereka pulang mengambil getah karet?” Isyaratkan keraguan di kepalanya.
“Iya, sedangkan malam hingga subuh mereka menyadap, atau memotong” Jawab Abdullah singkat
Enggal nampaknya begitu kagum saja dengan Abdullah. Sebab ia begitu memahami apa yang terjadi meskipun ia tidak menyaksikannya. Selama di perjalanan sesekali merekapun bertemu dengan pengendara motor dengan kecepatan kilat,  meskipun demikian bukan berarti di jalanan tidak ada rintangan  Keranjang yang terbuat dari Jerigen selaksa mahkota kendaraan tua itu.
“Disini kau akan melihat motor yang mengalami penuaan dini” Ucap abdullah.
“Oh ya? Bagaimana bisa?” tanya Enggal
Kau lihat saja itu!”
“Tua, tapi tenaga oke”
“Seperti orang sini”
Pecah tawa keduanya. Enggal hanya tertawa mendengar pernyatan itu, sebab nampak jelas sekali nahwa motor yang baru di beli langsung mengalami modifikasi yang serupa motor tua. Tetesan getah karet yang menjadi penghias utama setiap jengkal motor. Selain itu, dikabarkan juga bahwa bunyi motor di sini wajib di keraskan. Sebab jalanan begitu membahayakan, selain sempit, banyak terdapat tikungan berbahaya.
Jengkal demi jengkal jalanan mereka lalui, berbagai perasaan mereka lewati, kagum, mengerikan, berhati hati dan lain-lain.
“Titik terang sebuah terowongan sudah terlihat, Enggal”
“Iya, kita sudah melewati satu rumah tinggi”
“Kita akan mendatangi rumah terjauh duluan”
“Iya, Bang” Enggal menjawab singkat.
Kedatangan Enggal dan Pak Kades mendapat sambutan luar biasa, meskipun bukan tindakan terencana, namun warga sangat terkesan. Barangkali wajah Enggal lah yang membuat semua mata tertuju.
***
Tiba di penghujung dusun, penghujung perkebunan serta penghujung peradaban di daerah itu. Yang ada hanya rumah panggung di bawah pohon karet. Aliran air dari bambu yang katanya berasal dari air sungai. Air itu juga menjadi sumber kehidupan orang setempat.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, wah ada Pak Kades dan Pak Guru”
Basa-basi semacamnya panjang lebar. Hampir dimana saja, percakapan selalu di mulai dengan basa-basi. Panjang dan lebar, itu yang membedakan basa-basi di negeri ini.
Surayut sedang duduk di pangkuan ayahnya, serta adiknya sedang berada dalam Ayunan.
“Anak yang lain dimana?” Enggal bertanya
“Anak saya ada 7, Guru” Ujar Warrawut Sukkeaw, yang tidak lain adalah ayahanda Surayut.
Enggal tidak bisa menutupi rasa kagetnya meskipun tadi sudah mendapat berbagai wejangan dari Abdullah. Konon di kabarkan rata-rata jumlah anak penduduk di perkebunan karet adalah 5 hingga 8 anak. Diagnosa sementara Enggal mengatakan hal ini disebabkan oleh minimnya penerangan di malam hari serta matinya aktifitas malam hari.
“Ini adalah anak terakhir saya” Sambil menggenjot ayunan bayi yang terbuat dari kain sarung. “Sementara ini anak nomor 6 saya” Menunjuk Surayut.
Surayut tersenyum lebar menampakkan gigi kapaknya. Sejuk sekali dipandang mata. Untuk kesekian kalinya Enggal tersenyum lebar juga. Sama lebarnya dengan gigi surayut.
“Yang lain sudah berkeluarga ya, Pak?”
“Ada yang belum, ada yang sudah. Yang pertama menjadi Polisi di Bangkok. Alhamdulillah kami tidak menghawatirkan kesejahteraan hidupnya lagi”
Warrawut berkata dengan sedikit getaran di bibirnya. Disusul dengan sang istri yang duduk melipat kaki ke belakang. Tentu tidak ada ucapan darinya, hanya semerbak senyuman yang ia suguhkan. Enggal tertegun kagum.
“Yang kedua, dia di Hatyai, dia memiliki toko di BIG-C. Yang ini perempuan dan sudah menikah, justru mendahului kakaknya. Yang ketiga Menjadi Dokter di Satun. Yang keempat sedang kuliah mendapatkan beasiswa di Bangkok juga. Yang kelima sedang sekolah kelas 1 SMA. Yang ke enam ini, yang memiliki gigi besar seperti kapak. Yang ke tujuh ini yang sedang dalam ayunan”
Tidak ada suara sedikitpun. Yang terdengar hanya sunyi dan suara angin bersentuhan dengan pepohonan. Raut wajah Warrawut dalam bercerita mengisyaratkan kebanggan. Getar bibirnya menisyaratkan kepuasan serta mata yang berkaca menjadi bukti haru suasana. Enggal hanya tertegun mendengarkan cerita itu. Begitu pula dengan Pak Kades dan Istri Warrawut.
“Entah yang ini mau jadi apa besok. Kamu mau jadi apa, Nak?
“Saya meu menjadi petani karet saja seperti ayah” Jawab Surayut
“Tidak, bisa... kamu harus lebih dari saudara mu yang lain” Bantah Warrawut kepada Surayut.
“Aku mau menemani ibu” Ujar Surayut lagi
“Bercita-cita lah, Nak”
“Menjadi petani karet menjanjikan loh, Pak” Abdullah nyambung seraya bercanda
“Saya harus menghentikan tadisi ini”
“Bukankah ini menjanjikan?”
“Betul, menjanjikan tenaga ekstra”
Lalu?”
“Saya akan menjadi penyadap terakhir di keturunan ini” Ujar Warrawut Sukkeaw
Panjang sekali percakapan di atas rumah kayu sederhana itu. Sedikit tidak percaya, Enggal masih tidak habis pikir dengan kehidupannya hari ini. Mendapati sebuah ketegaran hati seorang ayah dan ibu. Mentari semakin meninggi, menyudahi sebuah obrolan edukasi dalam pelosok. Menyudahi kisah inspirasi setiap sosok. Suara seruling mendayu merdu mengiringi perjalana Enggal dan Pak Kades. Lambaian tangan mungil dan dekil penyadap getah karet sungguh begitu menghangatkan. Senyuman seorang ibu yang setiap pagi Enggal saksikan kini menambah luasnya kasih sayang yang Enggal rasakan.
Sepenggal kisah yang penuh inspirasi dari pedalaman Klong Hin.


Wednesday, 22 November 2017

KACA DI MATA AYAH


Kalian tau resiko orang bermimpi? Kalian akan dianggap bodoh oleh mereka yang tidak punya mimpi, sampai kalian mampu mewujudkannya. Tapi jangan takut. Itu adalah kekuatan. –Ayah— 

Di Padang Keladi sana, belaian lembut angin pedesaan diatas kursi santai terbuat dari kayu menjadi penanda sebuah percakapan khas ibu-ibu. Pertanda bahwa adanya keangkuhan penduduk bumi disudut pertiwi yang lain, dengan lambaian sombong khas serunai yang semakin meninggi, diapit dua bukit. Sebuah perbincangan ringan muncul dari beberapa bibir insan yang istimewa. Dibawah pohon mempelam –mangga yang berjenis kecil dengan aroma wangi khas Bangka Belitung— beberapa orang berbincang serius menemani senja diwaktu sore.
“Kabarnya Zamri hendak kuliah, benar begitu?”
“Oh benar, Ayahnya selalu meng-iya-kan mimpi Zamri”
“Hebat, kabarnya dia hendak menjadi sarjana pertama di Padang Keladi ini”
“Jadi sarjana itu tidak mudah, anaknya bang Seman di kampung sebelah sudah 7 tahun belum sarjana. Katanya banyak rapot yang merah”
“Tak apa, bang Seman banyak uang. Nah kalau yang ini?”
Berbagai macam percakapan semacam cemoohan yang menganggap ayahnya Zamri melakukan tindakan tidak rasional. Kala itu menjadi petani lada tidak sekaya sepuluh tahun kebelakang, harga lada jauh menurun, disisi lain petani lada dirugikan dengan virus ulat bulu yang menjadi racun bagi pohon lada, sehingga petani lada banyak yang gigit jari. Ayah Zamri salah satunya.
Karena itu, keputusannya untuk mengirimkan Zamri menuju bangku kuliah mencapat kecaman dari berbagai elemen. Mulai dari pak RT, tetangga yang rumahnya disebelah timur rumah Zamri, tetangga yang sebelah utara, tetangga yang rumahnya menempati nomor 05 dan lain-lain. Sehingga sore itu dikalangan ibu-ibu saja Ayah Zamri seakan menjadi trending topic.
Dipojok lain tak jauh dari bangku rumpi ibu-ibu kampung Padang Keladi itu, ada seorang lelaki yang tidak lain adalah Pak Cik-nya Zamri, yaitu suami dari adik ibunya. Mendapati ia sedang mengulas sabut kelapa sebelum diparut dan diproduksi menjadi minyak kelapa. Keberadaannya kurang terlihat oleh sekelompok ibu-ibu yang sedang bergunjing itu. Dengan senyuman menyungging dibibir ia mendengar celotehan yang dianggapnya angin lalu itu.
***
Suatu pagi, serunai belakang rumah semakin meninggi. Mendongak kearah matahari terbit. Pertanda matahari merestui setiap langkah makhluk hidup. Dan embun mulai ditarik pergi. Gemercik bunyi burung seperti air terjun yang tak kunjung putus. Mendapati seorang ibu yang sederhana dengan handuk melilit dikepala. Sedang mengaduk minyak kelapa setengah matang hasil parutan sehari yang lalu. Seperti biasanya, beliau adalah kepala bagian produksi. Lalu disisi yang lain seorang ayah yang sedang mengasah setiap sisi parang hingga tajam, maklum saja kerjaannya sedikit santai karena ia adalah direktur.
Entah apa yang sedang dibicarakan. Yang pasti bukan berbicara politk terkini masa itu. Usahlah bicara politik, mendengar kata politik saja mereka seakan sangat asing. Tiba-tiba datang seorang lelaki mngantarkan kelapa untuk diparut. Pak Cik Zamri, adik ipar ibunya Zamri datang,
“Jadinya Zamri kuliah dimana, Bang?”
“Kabarnya dia hendak ke Jogja” Ayah Zamri melebarkan senyum dan menatap lembut.
Bagai diserbu sebuah angin topan. Isyarat hendak bertanya tentang finansial sebuah keluarga ini telah luluh lantak. Melihat jawaban seperti tanpa beban dari senyum dan jawaban “katanya dia mau di Jogja”.
Dengan memutar pikiran, ia melanjutkan pertanyaan dengan cara yang beda.
“Apakah mahal, Bang?
“Belum tau, kabarnya lumayan!”
“Oooh” Jawab Pak Cik singkat.
Setengah dibungkam dengan senyuman, Pak Cik kini tak mau berucap banyak kata lagi.
Sebuah senyuman mengembang, dan mata tertuju pada satu ranting. Pohon rambutan dan mangga menjadi saksi percakapan itu. Namun semua seakan melayu. Daunnya berguguran dalam satu musim. Jatuh tertimpa sesimpul senyuman seorang ayah melayu.
Rupanya keluarga Zamri, terutama ayah dan ibu sudah terlebih dulu mendengar kabar angin sebagian masyarakat kampung. Sebuah keraguan yang ditujukan pada pundak ayah Zamri. Sebuah api kecongkakan yang dinilai sebagian orang. Sebuah tindakan yang dianggap  kesombongan karena memberanikan diri untuk menguliahkan anaknya.
“Aku hanya tak ingin melihat Zamri sepertiku yang setiap pagi pergi kebukit”
Sambil terus mengasah parang. Sementara Pak Cik hanya tersenyum dan sesekali menunduk dalam-dalam.
“Kau juga ikut meragukan kemampuanku?
Pak Cik menunduk semakin dalam.
“Aku selalu membangkitkan semangatnya. Aku tidak ada, namun ku bilang ada. Aku tidak punya, tapi seakan aku lelaki kaya. Bukan harta semata, tetapi aku senantiasa menyelipkan semangat didadanya. Aku hanya membukakan jalan untuknya, selebihnya Zamri yang tau baik-buruknya”
Suasana hening. Ayah Zamri tersenyum, yah tersenyum sangat lebar sembari terus mengasah parang
“Terlepas apa yang Zamri lakukan disana nanti, karena mataku memang tidak bisa melihatnya terus menerus. Namun aku yakin, Zamri paham dan menghargai keringatku”
“Iya, Bang”
“Kau tau resikonya orang bermimpi?”
Pak Cik Zamri hanya terdiam seribu bahkan sejuta bahasa. Bibirnya bungkam tanpa sepatah kata.
“Kita akan dianggap bodoh oleh mereka yang tidak memiliki mimpi sampai kita bisa mewujudkan mimpi itu. Tapi jangan takut, itu sebuah cambukan, sebuah kekuatan. Sesekali aku ajak dia ke bukit, sekedar menunjukkan ‘inilah kerjaan ayah, Nak. Anak ayah harus merubah semuanya. Anak ayah harus jadi sarjana’. Itu kulakukan berulang-ulang, tidak hanya sekali”
Gemulai angin menyelimuti pori Pak Cik, dan matahari semakin tinggi membakar semua pertanyaan yang menyangkut finansial di kepalanya Pak Cik. Betul, matahari semakin meninggi, sama tingginya dengan semangat ayah nomor satu sedesa itu.
“Aku begitu bukan ingin membuatnya lemah. Aku justeru hanya ingin dia tau kalau kerjaan ayahnya tidak boleh dicontoh. Lihat ini, tangan segini kasarnya, kulit segini bersisiknya, rambut kering begini, pakaian kusam dan bau seperti ini”
Matanya memerah bak buah saga serta semangat yang berkobar seakan membakar pagi, kini ia bangkit dan berkata “niatku menyuruhnya hanya semata-mata ibadah. Siapa tau kelak ia berguna bagi negeri ini. Atau paling tidak ia berguna buatku dihari tua”
Entah dimenit yang ke berapa, Pak Cik hanya bisa terdiam sejuta bahasa.
“Dengan begitu aku yakin Allah tidak akan diam. Jangan takut, aku berdua dengan istri tidak pernah berprasangka buruk. Minyak kelapa masak dan dijual, kami syukuri”
Sang istri hanya bisa menatapnya haru. Barangkali jika saja suasananya mendukung, dipastikan ia akan menangis mendengar ucapan itu yang begitu menyentuh hati dari suaminya. Sementara ayah Zamri harunya memuncak, matanya memerah serta berkaca-kaca.
“Saya tidak butuh pengakuan dunia, mereka mau meragukan silahkan saja. Memang begini resiko bermimpi. Namun ketahuilah, ada Allah dan itu jauh lebih dari cukup”
***
Tidak banyak cerita yang dapat ku ceritakan mengingat hal itu, untuk kali ini saja, bagiku, bercerita rasanya seperti menikam diri sendiri. Sakit dan perih. Sebab menyaksikan ayah menangis adalah pantangan seumur hidup.

MELUKIS PELANGI

Cerpen ini menang dalam lomba penulisan cerpen dan sudah dibukukan dalam Kumpulan Cerpen yang diterbitkan oleh Pena Indis 
ISBN: 798-602-429-047-7

MELUKIS PELANGI

Semenjak hari itu, aku sadar bahwa pelangi tak selamanya muncul setelah hujan. Ia pun tumbuh melengkung serta mengakar di senyuman ayah dan ibu dalam musim kemarau sekalipun.
==============================================
“Hendak kemana kau esok?” Seoranag ibu bertanya pada Syahrul 
“Melukis pelangi” Jawabnya sembari berlari meninggalkan senyum untuk ibu
Mentari dikala sore itu sudah terbenam, mesin diesel yang menerangi kampung Padang Keladi sudah dihidupkan oleh petugasnya. Seorang anak laki-laki berperawakan kumal bernama Syahrul berlari meninggalkan ibu untuk menuju Masjid dan selanjutnya ke rumah Pak Cik Seman untuk mengaji. Seperti anak-anak yang lainnya, dengan memakai songkok hitam berkain sarung ia berlari dan sesekali sarungnya melorot karena kebesaran.
Rumah Pak Cik Seman tidak jauh dari rumahnya. Jaraknya hanya berselang satu rumah. Syahrul dan kelompok enam sekawan beraturan masuk dan menyalami Pak Cik sebelum mengaji. Lalu meletakkan Al-Qur’an diatas bantal yang sudah disiapkan oleh Pak Cik sebelum sembahyang maghrib. Saat itu, Syahrul sebagai ketua kelas menempati barisan terdepan. Tidak ada bedanya seperti sekolah, mereka berenam sepakat menempatkan Syahrul sebagai ketua dalam tim mengaji. Satu persatu mengaji, dengan sabar dan telaten Pak Cik mengajari mereka.
“Rul, mengapa suaramu keras sekali tadi” Tanya Banu memasang muka heran.
“Supaya kedengaran ibu, biar beliau senang mendengar suaraku yang mengaji dengan semangat, inshaAllah besok aku dibelikan sepeda baru”
“Oh, patutlah kalau begitu” Jawab kelima temannya dengan muka datar.
Mereka berjalan sambil menyingsingkan sarung masing-masing. Tidak butuh waktu lama untuk ia sampai kerumah karena memang tidak terlalu jauh. Setiba Syahrul di rumah, ibu menyambut dengan senyum, pun jua sama dengan ayahnya.
“Nak, apa cita-citamu” Tanya ayah dengan nada bergetar
“Aku hanya ingin menjadi guru ngaji seperti pak cik Seman, Yah”
“Selain itu?” Imbuh ibu
“Aku hendak keliling dunia”
“lalu?”
“Aku hendak melukis pelangi di bibir ayah dan ibu” Ayah dan ibu Syahrul hanya tertawa saling menatap satu dengan yang lain.
Sebagai anak tunggal kala itu dia memang sering dimanjakan oleh ayah dan ibunya. Sepulang sekolah dia selalu diajak bersepeda keliling dusun oleh ayah. Terlebih ketika ia mendapat nilai 100, ayahnya akan mengajak ia keliling lagi pada sore hari.
Suatu sore, musim hujan di akhir tahun 1998, ayah dan ibunya mengajak Syahrul duduk bersantai di bangku depan rumah. Sesekali ayahnya mengajak bermain dengan telapak tangan. Entah apa maksud dari permainan itu. Namun tiba-tiba,
“Tangan ayah kasar, aku malas digendong ayah” Syahrul beralih ke ibunya
“Tidak boleh gitu, ayah dan ibu sama saja, sama-sama sayang kamu”
“Tapi ayah beda” Bantahnya
“Ya sudah, besok tidak usah bermain sepeda lagi” Karena ancaman itu membuatnya sedikit terpaksa meminta maaf kepada sang ayah. Lalu ayah memeluknya dengan kehangatan yang sama.
“Kelak, anak ayah jangan menjadi buruh seperti ayah. Jadilah orang besar, supaya tangannya tidak kasar seperti ayah. Cukup ayah yang begini” Lagi, untuk kesekian kalinya Syahrul mendengar sang ayah berucap dengan bibir bergetar sambil memeluknya erat. Dia menatap dan memeluk ayahnya dengan kuat pula. Sedikit merasa bersalah dengan ucapan sebelumnya. Kehangatan di musim hujan muncul diantara keluarga kecil itu. Sesekali batang serunai melambai terkena angin. Burung pentis ikut menyaksikan adegan itu sengan siulan melejit.
Angin sore itu meniup mereka begitu semilir. Syahrul bingung membedakan gelap di langit. Apakah gelap karena hendak turun hujan, entah pertanda sudah malam atau mungkin kelopak matanya yang mendung karena mendengar ucapan sang ayah?
“Bila kau hendak menjadi guru, itu cita-cita mulia”
“Tapi, aku juga hendak berjalan keliling dunia, Yah”
“Tidak masalah. Berkeliling dunia juga akan membuatmu menjadi guru yang luas akan pengetahuan. Nanti kau bisa ajarkan kepada murid-muridmu, kepada adikmu nanti, juga kepada ayah dan ibu” Ibunya menjawab sambil tersenyum ke sang ayah
Dia hanya membalas semua dengan tersenyum. Syahrul merasakan kembali tangan kasar sang ayah mengusap keningnya dengan lembut. Sekedar menepis gerimis yang mulai membasahi bumi. Menutup peraduan senja yang mereka tatap bersama.
***
            “Ibu sedang apa?”
            “Sedang mengajari adik-adik mengerjakan PR”
Gerimis tanah Songkhla, Thailand yang berubah menjadi hujan ringan membuyarkan lamunan Syahrul 18 Tahun silam. Pelangi itu sudah ia ukir sejak dirinya dinobatkan menjadi sarjana pertama di Padang Keladi.Lalu pelangi di bibir ayah dan ibunya bertambah lebar ketika mendapat kabar ia menjadi pengajar muda yang mewakili kampusnya di Thailand. Lengkap sudah impian Syahrul dan harapan ayah dan ibunya.
Namun, kali ini tidak ada tangan kasar ayah yang menghapus hujan di keningnya. Tetapi bagi Syahrul, pelangi itu ibarat bulan, dimana saja dan kapan saja ia selalu ada, hanya seringkali tidak tampak. Begitu pula dengan pelangi di bibir ayah dan ibu, ia pastikan pelangi disana sedang menyala merekah, meskipun ia tak mampu menikmati indahnya. Namun setidaknya Syahrul telah melukis pelangi itu menjadi nyata.



Nama               : Haiyudi
Facebook         : Yudhi Hyd
Email               : haiyudi@gmail.com
WA                 : +66-62-080-2292
Karya              :
1.      Persimpangan (Novel/ ISBN: 978-602-336-216-5/ 2016)
2.      Cha Yen di Negeri Gajah Putih (Kum-Cer/ ISBN: 978-602-71191-9-2/ 2016)
3.      Beberapa Cerpen dan Puisi di Media Cetak
4.      Padang Keladi (Novel/ Proses)
Penulis

Haiyudi, lahir di Padang Keladi, Sebuah dusun terdalam di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kep. Bangka Belitung. Pendidikan Dasar di SD N 233 Lepar Pongok, kemudian melanjutkan di SMP N 1 Lepar Pongok, lalu berhijrah ke Pulau Belitong untuk melanjutkan sekolah di SMK N 1 Tanjungpandan, Belitong. Selanjutnya mengadu nasib menjadi pedagang asongan di Malioboro, Jogjakarta. Sembari berjualan, ia juga merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2010-2014. Selebihnya ia adalah lelaki sederhana, bahkan sederhana sekali. Hobinya adalah bermimpi dan membangun mimpi. 

Monday, 24 October 2016

Suasana Kota Sepeninggalan Raja Bhumibol Adulyadej

Songkhla, 2559/ 2016. Sepekan setalah meninggalnya raja Thailand  Bhumibol Adulyadej, suasana duka semakin tampak mendalam. Raja yang menutup usia di umur yang ke 88 tahun itu dikenal sebagai raja yang bersahaja oleh rakyatnya. Kecintaan kepada rakyatnya membuat ia dicintai oleh rakyatnya di setiap pelosok negeri gajah Putih. Raja Bhumibol Adulyadej menjadi raja pada usia 19 Tahun, dan memimpin selama 70 tahun, oleh karena itu ia adalah raja terlama sepanjang sejarah di dunia.
Sebelumnya, pemerintah Thailand menetapkan masa duka/ berkabung selama setahun penuh. Mengingat hal itu pula, perbedaan yang mencolok di sekitaran kota Hatyai semakin tampak jelas. Suasana jalanan tidak seramai biasanya. Jalanan kota yang dulu dipenuhi oleh gambar Raja kini terliat kosong.
“Sebetulnya kami sangat berat untuk membuka semua gambar yang sudah bertahun-tahun terpasang” Ungkap seorang sopir tuk-tuk ketika saya tanya perihal tersebut. “Beliau sudah memimpin negeri ini sejak masih belia, kecintaan terhadap rakyatnya sangat besar, maka sekarang hampir dipastikan semua rakyatnya sedang berduka” imbuh sopir tuk-tuk yang lainnya.
Selain itu, suasana di sekitar taman dan tempat keramaian hampir dipenuhi pakaian berwarna hitam. hal tersebut berdasarkan keputusan pemerintahan Thailand untuk menghormati mendiang yang sudah meninggal. Sehubungan dengan hal itu, pakaian hitam yang ada di mall maupun yang dijual di tepi jalan kini menjadi mahal dalam waktu sekejap. “Mahal, karena banyak peminatnya” Ujar seorang penjaga toko di BIG-C Hatyai ketika saya bertanya perihal melonjaknya harga kaos berwarna hitam.
Saat ini rakyat Thailand menunggu dilantiknya Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn setelah dikabarkan bahwa dirinya meminta waktu untuk menyiapkan diri. Rakyat Thailand berharap Maha Vajiralongkorn akan bersahaja sebagaimana ayahanda yang memimpin negeri Gajah Putih. 

Friday, 30 September 2016

SUMBU

http://4.bp.blogspot.com
Setinggi apapun sumbu ku letak
bila kau siram minyak
ia menjalar, terbakar jua

Ternyalanya api diatas sumbu
basah, sedikit bau, namun menerangkan
panas, menyakitkan, namun menerangkan

Malang sekali engkau, Sumbu
dibasahi lalu dibakar
demi menerangi kafilah-kafilah malam

Adalah kita, sepasang cicak
di dinding yang terterangi olehnya.

Monday, 26 September 2016

Sajak Kau, Lilin dan Rembulan

http://santrigaul.net/cara-membuat-lilin/


Adalah kita kini dalam kegelapan
malam nan merajalela
Dinda, usah kau sibuk
mengatur letak lilin
supaya rupamu terlihat elok
sebab tanpa lilinrembulan tertunduk akan ayu paras mu
(Meja Guru, 26 Sept. 2016)
Hyd

Thursday, 8 September 2016

Sajak-Sajak Semesta

dok.pribadi
Adalah sulit bagiku memahami
setiap sajak-sajak semesta
dititipkan oleh-Nya diksi rumit dalam bola mata
ada sejuta lirik dan nada dalam lidahnya

Lalu pena ku hanya bak ranting patah
pena yang setengah hampir tak bertinta
berulang kali ku tulis,
aksaraku berantakkan menumpahkan
darah ketidakpahamanku atas mu

duhai engkau
sajak-sajak semesta
duduk lah yang manis
bersandinglah dalam kanvas-kanvas
usang pun jua kusam ini
selebihnya kan ku pahami kau
dalam sebait do'a

duhai....
wanita jelmaan sajak-sajak semesta

Th.08-09-16
Haiyudi

Pigura