Friday, 6 March 2015

Berpuisi untuk mama (?)

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/12/1387659659112088958.jpg
Selamat malam, Ma....
Sudah tidur?
Ma, aku sedang diatas genteng
Berpijak dipulau jawa
Berdiri dikota budaya
Dimana mama? J
Teringat masa kecilku, Ma
Kau adalah koki
Bukan profesional
Hanya untuk ku sarapan pagi
Kau adalah penyanyi
Bukan profesional
Hanya menghiburku saat sedih
Kau adalah sopir
Bukan profesional
Hanya antar jemput ku sekolah
Kau adalah komedian
Bukan profesional
Hanya membuatku tertawa ditengah tangis
Kini
rambutmu kian memutih
Tubuh mu kian membungkuk
Saat hujan deras, berangin, dan gelap
Itulah aku yang kini jadi sang perindu

Yogyakarta, 6 Maret 2015
Oleh: Yudhi Doank

Tuesday, 3 March 2015

Sepenggal rindu untuk Bapak

Suatu pagi seorang bapak muda duduk dengan putranya. Ditengah kegundahan hatinya karena sedang sakit, bapak tersebut tidak bisa bekerja seperti biasanya. Dia duduk dibangku panjang sambil bercengkrama dengan putra kesayangannya itu.
Putra tersebut sedang berusia 3 tahun. Masih terlihat jelas rona bahagia sang bapak karena anaknya kini kian tumbuh besar. Dipeluknya erat anak tersebut karena udara semalam masih menyisakan embun dipagi itu. Acap kali sang anak bertanya deangan bapaknya
Pak, itu burung apa” sang anak bertanya kepada bapaknya sambil melihat burung diatas pohon rambutan didepan rumah
itu namanya burung kelayang” jawab sang bapak sambil memeluk putranya dengan kasih sayang.
Berulang kali sang anak bertanya tentang nama burung itu. Mungkin ada sekitar belasan pertanyaa yang diberikan oleh anak tersebut kepada bapaknya. Semua pertanyaan tersebut adalah sama. Dengan sebanyak itu pula sang bapak menjawab pertanyaan putranya dengan sabar. Tanpa marah sedikitpun. Malah dijawab sambil memeluk erat si putranya itu.
Berlalunya waktu tanpa terasa anaknya sudah tidak lagi berumur 3 Tahun. Anaknya sudah menduduki bangku SMP dan mulai beranjak remaja. Kasih sayang sang bapak tidak sedikitpun berkurang. Sama seperti orang tua yang lain. Bertumbuhnya usia sang anak kiti seakan tidak dirasa. Hingga ia membelikan sepeda untuknya bersekolah. Berbagai liku kehidupan dalam sebuah keluarga kecil itu terjadi. Hingga satu hari ia menyadari  sang anak kini telah tumbuh menjadi anak yang remaja. Ketika anaknya belum pulang sekolah padahal jam sekolah sudah terlewati sekian lama, perassannya kian menjadi kacau. Pada saat itu anaknya sekolah di sebuah SMP dengan waktu dimulai siang hari hingga sore hari. Anaknya tidak sendiri, ada 6 orang siswa lain kini yang mengayuh sepeda bersamanya.
Sore itu anaknya belum juga datang sekolah, hingga jarum jam menunjukkan angka 7 tanpa matahari terbit alias jam 7 malam. Perasaan gundah seorang ayah kini kian kuat. Bukan tanpa alasan, kekhawatiran tersebut memiliki alasan yang kuat mengingat medan yang dilewati begitu terjal. Bagimana tidak, hutan sepanjang 6 Km mereka lewati setiap hari menjadi kekhawatiran setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya disana. Tidak terkecuali bapak muda yang beranjak tua tersebut. Hingga melewati batas kegundahannya, bapak muda tersebut menunggangi sepeda Phoenix kesayangannya untuk memastikan apa yang terjadi pada anaknya.
“Bu, bapak menyusul anak anak dulu, kok jam segini belum juga sampe rumah” ucap sang bapak muda kepada istrinya yang juga semakin gundah.
“iy pak, cepat dipastikan anak-anak itu, kok belum juga pulang” ucap ibu muda yang tidak kalah gundahnya
Dengan sepeda tuanya yang dihiasi rasa gundah, sang bapak kini semakin kuat menggenjot pedal sepedanya hanya ingin memastikan putra kecilnya dulu. Dimana dia? Ada apa dengannya? Mengapa kini beum tampak dimatanya? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya. Hingga ditengah perjalanan sang bapak menghentikan sepedanya dengan keringat bercucuran di kening tengah bayanya. Oh... alangkah sayangnya sang bapak kepada anaknya hingga setengah perjalanan ia memastikan keadaan si putranya. Setelah ditemui, keringat sang anak membuktikan bahwa rasa letih nya kian ada. Ternyata salah satu dari 6 sepeda anak tersebut tersebut mengalami putus rantai sepeda. Dengan modal setia kawan, kelima teman anak tersebut turut menuntun sepedanya. Termasuklah si putra bapak yang setengah baya tersebut.
Perasaan lega terpancar jelas di wajah bapak tersebut, kini tak ada lagi gundah dihatinya. Semua pertanyaan yang selama ini berkecamuk dikepalanya sudah terjawab. Perasaan senangpun kian muncul bercampur perasaan bangga melihat kekompakan yang muncul dari ke-6 anak manusia tersebut. Dengan santai sang bapak ikut menuntun sepeda tuanya hanya karena ingin melihat dan bergabung dengan kekompakan si anak. Dengan perasaan bangga sng bapak tersenyum dan bergumam dalam hati “syukurlah anak-anakku tidak kurang satu apapun”
Sampai dirumah sang bapak langsung menuju sumur dan  menimbakan air untuk anaknya mandi. Sungguh tanpa lelah ia menyiapkan segalanya. Dan ibu yang sedari tadi menyiapkan makan malam. Setelah mandi mereka makan malam dengan ditemani lampu neon sebagai media penerangan. Meskipun tertunda, namun makan malam mereka tidak kurang satu apapun, malah bertambah bumbu keharmonisan dalam keluarga kecil itu.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tibalah waktunya sang bapak kini harus melepas putra nakalnya. Bukan melepas ke hutan, karena itu memang dunia mereka. Namun kini harus melepas kekota. Sampai tanpa terasa sang putra kini tidak sendiri, hadir pula seorang putri kecil sebagai penghias rumah. Sebagai teman sang ibu untuk bercanda. Hingga ketika putra kecilnya dulu melangkah kan kai ke kota, mereka tidak terlalu kesepian.
Dalam kesehariannya sang bapak terus saja kekebun ladanya untuk sekedar membunuh waktu. Belum sewindu namun sudah rindu. Bapak yang dulu dengan sabar memapah putranya untuk belajar berjalan, kini tidak tampak lagi wajah kecil itu. Sampai pada satu hari ia menerima telpon dari sang anaknya
“Pak, sekolah meminta bapak untuk datang dalam pengambilan rapot” ucap putranya yang kini hanya terdengar lewat telpon.
“Kapan bang? Memangnya tidak bisa diwakilkan? Minta paman yang datang bisa tidak?” seraya mengajarkan kepada putrinya agar memanggi putra kecilnya dulu dengan panggilan abang.
“Minggu depan pak, kata kepala sekolah akan lebih baik orang tua sendiri yang datang” jawab sang putanya dengan sopan
“oohhh baiklah, diusahakan bapak datang yah” demikian sang bapak menjawab sambil menenangkan hati si putranya.
Bagai ditampar, kini sang bapak yang dulu masih muda, kini kian merasa tua. Jelas, karena kini juga ia menyadari kalau putra kecilnya dulu sudah beranjak dewasa. Ternyata saat ini dia sudah menduduki bangku kelas 3 SMK. Jelas sudah kalau usia bapak muda itu kini beralih semakin tua. 5 menit setelah berbicara pada anaknya ia sempatkan untuk merenung sambil bergumam
“ternyata putra kecilku dulu kini sudah beranjak remaja. 3 tahun sudah ia jauh dariku. Tak kulihat lagi tangisnya yang dulu. Pun begitu dengan tawanya. Bagaimana kabarnya sekarang? Masihkah kecil seperti tempo hari? Atau sudah lebih tinggi dari aku? Demikian gumamnya dalam hati.
Suatu pagi, matahari yang tidak juga muncul karena keangkuhan sang cuaca dan awan gelap. Benar saja, pagi itu begitu gelap, namun kapten kapal nelayan memberikan kode seakan jangkar siap diangkat. Sang bapak nekad untuk memenuhi panggilan sekolah untuk mengambil rapot anaknya pada besok hari. Dengan menumpang satu-satunya transportasi yang memungkinkan itu ia tetap memberikan senyum. Dermaga pulau pongok menjadi saksi betapa rasa rindu dan cinta sang bapak begitu besar terhadap putranya. Bukan tidak khawatir dengan ketinggian gelombang, namun cinta pada putranya melebihi kekhawatiran itu. Bukan tidak takut melihat ombak didermaga yang kian tinggi, namun rindu pada anaknya telah menyembunyikan pisau ketakutan itu.
Setelah meewati perjalanan laut kurang lebih 6 jam, dengan kepala pusing akhirnya ia tiba didermaga Tanjungpandan belitung. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kabar yang tak enak selama didalam kapal. Benar saja, diantara banyak penumpang kapal nelayan tersebut, ada seorang remaja putra yang mengalami pusing yang tak terhingga. Sampai pada titik puncaknya ia pun muntah diatas tubuh bapak tengah baya itu. Inginrasanya marah, namun remaja itu menginatkan ia pada tujuannya berangkat. Ia membayangkan wajah yang sekian lama tidak ia lihat. Wajah yang dulu sering ia ajak melihat burung kelayang didepan rumahnya. Oleh karena itu amarahnyapun redam dan berpura seolah tidak terjadi apa apa. Meskipun dari bercak kemejanya terlihat jelas oleh sang anak bekas muntahan seorang remaja putra.
Keesokan harinya, iapun pergi kesekolahan si putranya. Bedanya dulu ia yang membimbing putranya itu dan mengantarkannya dengan sepeda tua ketika SD. Sekarang kembali putranya memimpin langkah untuk menuju sekolah yang ia lihat baru baginya. Dulu putra kecilnya menggunakan seragam kerah putih, kini sudah beralih menggunakan putih abu abu. Sampai pada giliran nama putranya dipanggil, wajahnya sungguh sumringah. Mendapati nilai putranya yang kian memuaskan. Yaaahh... mungkin rasa rindu dan sayang atas putranya menjadi bumbu penyedap senyum atas nilai yang ada ditangannya.
Karena kebunnya kian dirindukan, serta ia megitu dibutuhkan oleh tanaman yang ada dikebunnya, iapun garus meninggalkan putranya dan kembali ke rumah. Sama seperti pergi, kembali pun ia menggunakan kapal nelayan yang kian semakin mengerikan untuk ditumpangi. Bukan karena rusak, namun cuaca memang kini sedang tidak bisa bersahabat. Gelap dilautan lebih menakutkan jika dibandingkan gelap di gunung. Yahh mengertilah maksudku.
Dan hari ini, tepat di gedung ini. Tempat dimana jutaan mahasiswa di wisuda. Tempat yang dulu dan hingga kini dikenal kota pelajar dan kota budaya. Ada seorang anak yang rindu akan ayahnya. 3 Maret 2015 pagi, putra kecil kesayangan sang bapak kini berada di antara ratusan manusia. Mengantri digedung Imigrasi Yogyakarta. Bisa ditebak bukan, orang pribumi berurusan ke kantor imigrasi. Yah... dia berdiri di line antrian dengan membawa status pemohon untuk penerbitan paspor. Putra kecil sang bapak dulu kini sudah berdiri dan tertunduk hormat dikota budaya ini. Bukan tentang mau kemana ia pergi dengan paspornya itu, namun tentang sebuah kenangan yang ada ditengah hujan angin kemaren.
Ditengah antrian yang kian memanjang, ada seorang bapak yang kian menua dengan menggendong putra kecilnya. Dengan penuh kasih sayang bapak dan anaknya berbicara
“Pak, itu burung apa?” tanya anak kecil itu.
“itu burung gereja” jawab sang bapak, dengan penuh kasih sayang dan pelukan
Pertanyaan yang sama juga bukan hanya sekali itu, namun berkali kali anak kecil itu bertanya. Sebanyak itu pula sang bapak menjawab dengan kasih sayang, tanpa memarahi anaknya sedikitpun. Sontak kejadian itu mengingatkan seorang anak yang kini rindu akan bapaknya. Mungkin kini tak semuda bapak itu. Yang pasti anakmu kini kian rindu.

Yogyakarta, 3 Maret 2015 oleh Yudhi Doank
__Bapak, anakmu kini kian jauh, mungkin kan menjelajah dan keluar dari negeri antah berantah ini. Cerpen ini didedikasikan untuk Bapak yang jauh disana. Putramu kian sayang dan rindu.

Selamat malam Expresso

Hujan, 1% adalah air, sedangkan sisanya 99% adalah kenangan. Oh iya ini malam apa ya? Lupa waktu kalo udah kayak gini. jarum jam seakan mati, malam seakan ditikam, hujan bagaikan butiran mutiara yang jatuh dari langit.
Toshiba dan Asus adalah dua makhluk hidup sebagai saksi dimana kami berada. Bukan manusia, karena semua seakan tak ada. Bukan mati, hanya memang tak kami hiraukan. Catatan malam tentang kami mungkin memang sudah berakhir, namun peduli amatlah, makan aja belum. hehehe
3 maret adalah angka yang bisu dimana rasanya ingin ku bunuh.Sejak pagi aku sudah disibukkan dengan urusan ke-imigrasian. Hingga sore tepat --karena matahari memang tidak ada, padahal baru jam 3-- aku baru menginjakkan kaki kedalam ruangan 3x3. Benar saja, jika sejak siang hari jogja memang sudah dibuat menangis oleh kekejaman alam yang senantiasa tidak bersahabat. Entahlah mungkin menangisi negeri ini. Peduli amat, mbah Amat aja ga pernah peduli tuh. Sayangnya disini nggak ada mbah Amat, yang ada hanyalah sekumpulan anak muda tapi tidak ada anak mudi --aturan baku bahasa-- disini.
Ada banyak mata yang memang tidak saling mengenal, seperti diawal, makhluk bernama toshiba dan asus adalah dua insan yang tidak saling mengenal. tapi ada yang punya. Mereka tidak paham akan hujan diluaran, hanya saja melihat sang tuan tersenyum sepanjang waktunya. bagaimana tidak, jika diibaratkan biro jasa, mereka berdua memang sangat berjasa. Mereka menjadi agen curhat para tuannya. Bahkan tak jarang mereka sakit sakitan. Ada juga yang mengalami kerusakan organ dalam. Ku yakin dua makhluk bernama toshiba dan asus ini sedang lelah. Hannya enggan untuk berkata.
Sudahlah... mereka berdua hanya makhluk penghias malam ini. Bukan mereka yang ingin ku ceritakan. Kalau boleh aku mau berpuisi sebentar.

Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Semua bisa diartikan dalam makna yang sebenarnya. Namun juga jika ingin diartikan dengan makna khiasan, maka malam ini sangatlah tepat. Entahlah.... panjang pertimbangannya untuk berpuisi ditengah hujan begini. Kasihan pengunjung Expresso, nanti keburu mau pulang padahal masih hujan. hehehe. Yahh ketika makhluk bernama cinta ku ceritakan maka tak cukup waktuku disini. Betapa tidak, makluk yang satu ini berhasil menyembunyikan sebuah pisau yang memang sempat menyayat tadi sore. Gubraaaak... Ehhh ternyata ada orang disamping. heheh peace mbak, kayak orang berantem aja. Nggak teguran gitu. Loohhhhh siapa yah? kutanya pada pisang dan segelas kopi? mereka bingung. Tanyakan lagi pada roti. Apalagi roti... mukanya aja udah dibubuhi dengan cokelat gitu. mana bisa dia melihat. Tapi sang kopi berdelik seolah mengatakan
"hey... dia yang sering kau ceritakan dulu, ketika kau masih setia padaku ditengah malammu, kamu kan sering bercerita tentang Milea, kurasa itu dia."

Ohhhh.... tuh kan, sering lupa waktu. udah ah. udah malam.... terimakasih Kopi --setengah cokelat-- telah menyadarkan ku. :-*

Friday, 27 February 2015

Sajak untuk wanitaku

Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Jogja, 27 februari 2015
Yudhi Hyd

Tuesday, 24 February 2015

Mudik (ora)?

http://images1.rri.co.id/thumbs/berita_94407_800x600_Onthel.jpg
Yeeeyy 21 januari yang lalu liburan kampus. Waktunya berlibur dan pulang kampung, setelah 2,5 tahun tidak menginjakkan kaki disana. Senang dan semangat menjadi kaki kanan dan kiri. Dor..... aaaaaakkkk...... ternyata aku bukan lagi mahasiswa. Lalu ini masihkah namanya liburan? hehe jelas iya, karena saat ini saya masih tidak berbeda dengan mahasiswa. 
Tinggalkan saja dimana dan apa kerjaanku saat ini. Pulang kampung, adalah tradisi yang dipegang erat bagi mereka yang hidup merantau. Belitung merupakan pulau dimana hati ini dilatih untuk menjadi perantau sejati. Sejak SMA aku sudah tidak lagi seatap dengan dia yang melahirkan ku. Ibu, sang malaikat tak bersayap yang nyata bukan layaknya peri dalam dunia hayalan. Bapak, superman yang tanpa topeng, ia hanya memiliki pacul tuk membangun sebuah atau dua buah ladang. Kuat bagiakan Little Krisna. :-) ku yakin mereka telah menerima penghargaan dari alam dimana mereka berkarya.
Sejak pertama kuliah, bapak dan ibu hanya membekaliku dengan sedikit modal nekad. Bagaimana tidak, ketika dunia kerja sudah diambang mata, kelulusan SMA sudah menjadi nyata. Tak disangka dan tak diduga tawaran untuk menyambut bangku kuliah kini telah menjadi fakta. Sejak itu tak ada kata dari bibir, hanya getar dalam hati, dengan sebuah kalimat tanya "mimpikah ini?". Wajah letih bapak yang saat itu diselimuti semangat untuk melihat anaknya memakai toga kini tepat didepan mata.
"mau kuliah dimana?" wajah itu bertanya layaknya tanpa beban.
"sebentar pak, saya tanya-tanya dulu" semangat yang bapak tularkan kini ada padaku.
Tak lama berselang, aku harus memilih tempat kuliah yang pas. Jogja merupakan pilihan tepat karena saat itu dan "kini" Jogja masih dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar. 
Sejak awal kuliah tekad ini sungguh kuat. Tak ayal semangat ini sering menjadi pegangan mereka yang membutuhkan. Dalam hati berniat "aku harus lulus tepat pada waktunya dan tidak pulang sebelum wisuda". Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun hingga  tiba kini aku diujung lorong waktu dimana toga yang dulu bapak harapkan siap dikenakan. Bahagianya tak kurang satupun sampai ku kabarkan 16 Agustus 2014 aku kan wisuda, setelah menjalani proses jatuh bangun selama kurang lebih 4 tahun.
Kembali aku bertarung dengan sang waktu, berharap sebuah kajaiban setelah terdengar sayup haru oleh angin pulau Pongok. Oh iya.. pongok merupakan nama tempat dimana keluargaku menaruh hidup dan kehidupan. Pelan pelan ku dengar keadaan keluarga yang yak memungkinkan untuk hadir ditengah hari yang ku hitung tepat 4 tahun sejak duduk dibangku kuliah. Senyum? sungguh tak lupa untuk hal satu itu. Mencari selimut untuk sembunyikan sedih. Mencari hati tuk sembunyikan hati. Bagaimana tidak, detik itu menderu semakin dekat hingga suatu pagi ku terbangun oleh riuh gaduh tetangga kost yang siap siap ingin di wisuda. Ohhhhhhh ternyata aku juga. :-). Dimana mereka? ku berlari menuju sebuah ruangan yang ku ingat disitu ada keluargaku. Benar saja... ternyata keajaiban itu ada. Disana ada keluarga yang hadir dan sedang bersiap hadir pada upacara wisudaku. :-). "selamat datang" ku ucapkan seraya membuka tabir kenyataan yang ku rias dalam mimpi semalam. Mereka keluarga memang, namun bukan bapak atau ibuku. Tak apa, senyumlah selalu sebagaimana pesan ibu.
Hitungan waktu kini semakin berada dalam dimensi terkecil. Bukan lagi bulan apalagi tahun. Kini hitungannya tinggal detik. Jujur saja sampai pada sedetik sebelum menaiki podium didepan rektor, aku masih berharap wajah itu hadir ketika membalikkan badan ditengah keramaian upacara. 
Hmmmhhh sudahlah. aku mau mudik saja. Kembali menghitung mundur waktu. Sejak diwisuda, tradisi mudik sudah hancur dalam diri ini. tak ada nama pulang kampung (maunya). Sejak itu pula memutarkan otak tuk bertahan dalam gemerlap kota Pelajar ku putuskan. Sampai pada 20 januari rasa rindu ini mencapai puncaknya. Benar saja begitu banyak berbelit jalanku untuk memutuskan pulang. Rasa takut terjebak nyaman dalam sebuah kampung halaman menjadi penyebab. Bukan tak mau, hanya karena ku pahami area dan "track record" disana. 
"Bapak sakit" 
Sejak itu tanpa berpikir ulang, ku berlari menuju agen sebuah maskapai. Tepat besok pagi aku harus pulang kampung. Manambah rindu akan sebuah raut wajah. Senandung rindu ini kian berkecamuk bercampur khawatir terhadap malaikat tanpa sayap dan supermen tanpa topeng. :-)
"Pulanglah nak" sungguh itu membuat mata menangis.
_____Bu, anakmu pulang terlambat, tutup saja pintunya, namun jangan dikunci.

Tuesday, 23 December 2014

FREQUENCY ADVERBS

• Discuss the meanings of frequency adverbs. Perhaps present to the students the specific frequency of some activity and ask them which adverb would be best. Examples:

I drink coffee every morning of the week.  always
I drink coffee six mornings a week.  usually
I drink coffee four or five mornings a week.  often
I drink coffee two, three, or four mornings a week.  sometimes
I drink coffee once every two weeks.  seldom
I drink coffee once or twice a year.  rarely
• Other possible points to discuss:

(1) Usually and often are close in meaning. If any students want to pursue a distinction, you might say that usually is 95% of the time, and often is 90% of the time. Or you might say that usually means “most of the time, regularly” and often means “many times, repeated times, frequently.”

(2) Often can be pronounced /ɔfən/ or /ɔftən/.
(3) In discussing the difference between seldom and rarely, you might describe seldom as 5% of the time and rarely as 1% of the time.
Source: Betty Azhar

Daftar website download e-book gratis.

 Ada beberapa website yang dulu sering saya kunjungi untuk sekedar mencari referensi ketika menulis skripsi. Barangkali ada yang membutuhkan juga, silahkan di cek...

1. libgen.org
2. en.bookfi.org
3. http://bse.kemdikbud.go.id
4. http://ebookgratis.info/situs-ebook-gratis-indonesia/
5. http://www.rajaebookgratis.com/
6. http://buku2gratis.blogspot.com/
7. http://duniadownload.com/
8. www.academia.edu/
9. http://www.buku-e.lipi.go.id/
10. http://www.zillr.org/
11. http://www.snipfiles.com/
12. www.bookyards.com/
13. www.library.usd.ac.id/

Pigura